Pagi itu tepat pukul 04.55 WIB aku baru saja selesai menunaikan ibadah shalat subuh dan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Lampu kamar kumatikan dan pintu kamar pun sudah kukunci. Aku melangkah pasti menuju teras depan rumahku, dan tiba-tiba terdengar suara kodok sawah dari telepon selularku, oh ternyata ada sms, tapi dalam hati aku bergumam "busyeh,.makhluk mane yang ngontak w pagi2 buta, da ape neh?", langsung saja kubuka sms tersebut, dan........
Setahun yang lalu aku dikejutkan oleh dering telepon tengah malam yang ternyata membawa kabar bahwa papaku terserang strok, dan tepat tanggal 1 Oktober 2009 pukul 05.14 WIB, saat mentari pun belum sepenuhnya menatap dunia, aku harus menerima sebuah sms singkat yang mengabarkan bahwa seorang sahabatku telah pergi tuk selamanya dengan cara yang sangat mengenaskan. Seorang sahabat yang polos, baik dan selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya.
Sejuta asa berkecamuk dalam benakku. Aku tak kuasa membendung semua asa tersebut dan seolah tak percaya. Aku terduduk diam di sebuah kursi. Seketika muncul ibuku lalu beliau bertanya ”koq belum berangkat ke kantor?” aku pun menjawab, ”belum, lagi bingung. Ardi meninggal”. Ibuku spontan terkejut, ”Innalillahi wainnailaihi rajiun, Ardi anaknya pak yayat? Kapan? Kenapa?”. Aku pun membacakan sms yang tadi berhasil membuatku lumpuh asa. ”Ardi meninggal pukul 03.30 karena terlindas truk di jalan gintung”, mamaku pun mengelus dadanya seraya berdo’a. Lalu mama menyuruhku membantu mengurus jenazah sahabatku itu. Aku mengangguk, namun perasaan terkejut ini masih menyelimutiku sehingga kakiku ini tak sanggup tuk menopang berat tubuhku
Tak berapa lama aku mulai menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya sambil tetap duduk di kursi. Jiwaku menerawangm dan semua kenangan bersama alamarhum pun satu persatu mulai berkibar di dalam asaku.
Refleksi,
Ardi, aku mengenalnya saat aku berumur 4 tahun. Namun pada saat itu kami belum satu permainan. Saat aku berumur 11 Tahun barulah kami tergabung dalam sebuah komunitas dan berada dalam satu komunitas yang selalu penuh dengan canda dan tawa. Ardi adalah anak yang baik. Aku dan teman-teman yang lain biasa memanggil Ardi dengan panggilang ’cingmin’ heuheu.. mengapa demikian? Ya, karena perawakan Ardi yang mirip keturunan tiong-hoa tapi berkulit coklat. Ardi pun bukan dari keturunan ting-hoa, Ardi adalah seorang anak sulung dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki, mereka adalah Ardi, Fahmi dan Haris. Cingmin pun hadir sebagai wujud nyata kami dalam merespon tingkah konyol almarhum semasa hidup. Kembali pada topik ’cingmin’ heuheu,. Ardi adalah sosok yang baik, menyenangkan dan sangaaaaat polos. Saat kami sudah mulai nakal, Ardi masih ’cupu’ karena memang pada dasarnya Ardi tidak pernah berani melawan arus. Saking polosnya, banyak sekali sketsa lucu bersama almarhum. Begitulah filosofi sederhana kenapa almarhum Ardi dipanggil ’cingmin’ sebuah nama yang menyiratkan bahwa seolah dia adalah keturunan tiong-hoa dan sangat polos. Sebuah nama panggilan yang ’nyeleneh’ tapi punya kisah yang kuat.
Perjalanan hidup keluarga Ardi cukup perih. Mudah-mudahan Allah SWT selalu melimpahkan rahmatnya pada keluarga almarhum. Pada saat kami duduk di bangku SMP, Ayah Ardi di PHK oleh kantornya. Lalu Ayah dan ibunya membuka usaha rumah makan kecil-kecilan, tapi tak berapa lama usaha tersebut bangkrut. Saat kami SMA, AYAH Ardi terserang penyakit jantung yang cukup parah dan sangat menguras keuangan keluarganya. Lalu pada saat aku duduk di bangku kuliah, Ardi tidak meneruskan pendidikannya ke bangku kuliah karena kurang biaya. Yang lebih mengejutkan adalah pada saat Ardi berkunjung ke kosanku di Jatinangor, awalnya aku pikir Ardi memang menyempatkan diri tuk berkunjung menemuiku. Tapi ternyata Ardi sekeluarga sudah pindah rumah ke Jatinangor karena tidak kuat dengan beban hidup di Jakarta. Aku tercengang, masih jelas dalam ingatanku bahwa pada saat itu aku manatap matanya tajam seraya berucap dalam hati ”ya ampun di, perih amad idup lu”.
Sejak saat itu, Ardi jadi sering sekali berkunjung ke kosanku. Entah untuk sekedar numpang istirahat bahkan kadang hanya untuk menonton film dikamar kosanku hingga akhirnya pasti diakhiri dengan sesi curhat. Heuheu.. ada sebuah sketsa lucu selama Ardi berlalu lalang dikosanku. Sore itu Ardi berkunjung ke kosanku, namun didapatinya kamarku terkunci, kosong dan gelap. Maka ia pun pulang lagi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia menelpon ke telepon selularku melalui telepon selular miliknya dan mulai bertanya, ”put, lu dimana? W tadi kekosan lu, tapi elu gak ada”, aku pun bingung dan mencoba menjawab pertanyaan sahabatku itu ”ah w ada koq di, w di kosan w neh dari tadi siang, gak kemana, masih di pondok malaka Indah koq w”, lalu Ardi menjawab, ”w tadi kesana lu gada. Baruuu bgt tadi”, kujawab ”w di kamar si agus di belakang, lu kemari aje, ke kamar yang deket toilet lantai 2”. Tiba-tiba Ardi menjawab, ”yaah..w dah di rumah put, nti dah sejam lagi w kesana”, aku pun bingung ”lah koq dah di rumah, ngapa tadi kagak nelpon w pas masih dikosan w?”, Ardi cingmin menjawab dengan lantang, tegas dan meyakinkan ”Oia, gak kepikiran w” heuheuehuehu... ya.. itulah satu dari sekian banyak sketsa jenaka dari almarhum Ardi.
Di Jatinangor, Ardi dan keluarganya membuka rumah makan kecil-kecilan di daerah Sukawening. Jika sudah tidak ada kegiatan di kampus, aku sering berkunjung ke kedai keluarga Ardi untuk sekedar makan atau bantu-bantu membereskan kedai. Namun karena penyakit ayah Ardi yang semakin menjadi, kedai itu pun tak bertahan lama hingga pada akhirnya harus gulung tikar. Ardi pernah minta tolong padaku agar dicarikan pekerjaan agar dapat meringankan beban orang tuanya. Sudah kulakukan, aku berkeliling Bandung mencari lowongan untuk almarhum, tapi di hotel-hotel yang ada di Bandung pada saat itu, lowongan untuk pemuda yang hanya lulusan SMIP sedang kosong. Minimal harus S1. Ardi pun kecewa mendengarnya. Aku tetap memberi semangat pada sahabatku itu agar tak mudah menyerah, tetap berusaha dan tawakal.
Itulah terakhir kali aku berjumpa Ardi di Jatinangor, karena setelah itu menurut penuturan ibunya, Ardi ternyata hijrah kembali ke Jakarta bersama adiknya yang pertama si Fahmi. Ternyata rezeki Ardi memang disini. Ardi dan Fahmi diterima bekerja di tempat yang berbeda. Fahmi di sebuah restoran cina di bilangan BSD, sedangkan Ardi di sebuah hotel terkemuka di Jakarta pusat.
Setahun lamanya aku tak pernah berjumpa dengannya. Hingga pada suatu ketika Ardi mampir kerumahku. ”Woy put..!!!” sapanya.. senang sekali bisa berjumpa dengannya lagi. Kami pun berbincang di dalam kamarku. Dan ia mulai bercerita tentang hidupnya selama kami tak berjumpa. ”alhamdulillah” itulah yang terucap dibenakku saat mendengar kabar gembira tersebut. Akhirnya sahabatku ini mendapatkan pekerjaan dan bisa membantu meringankan beban orang tuanya. Betapa senangnya hatiku. Namun seperti biasa, aku tak pernah mengekspresikannya secara langsung karena takut tak kuasa menahan genangan air mata haru. Heuheueh.. (dasar cengeng). Masih di dalam kamarku, setelah bercerita panjang lebar, Ardi bertanya padaku ”put, harga laptop berapaan ya?”, lalu aku menjawab, ”buat apa, koq tiba-tiba lu maw beli laptop?”, yaa buat belajar aja biar ga gaptek” jawabnya. ”oooh.. ya lu buat apa dulu, kalo buat design mah mahal di, tapi kalo cuma buat ngetik doang mah banyak yang murah”, Ardi menghisap rokoknya lalu menjawab pertanyaanku, ”ya itu buat ngetik aja”. ”Ooooh banyak koq yang murah,.. neh w ada beberapa list harga laptop, lu liat-liat aje”. Setelah melihat-lihat aku kembali berucap ”pokonye, jangan mpe lu beli laptop cuma buat gaya-gayaan ye, apalagi kemakan gengsi. Berangkatlah dari kebutuhan ya di” Ardi pun menjawab ”Okei put”. Setelah itu seperti biasa Ardi membaca buku-buku yang ada di kamarku. Memang itulah salah satu kebiasaanya bila sedang berkunjung ke kamarku (baik itu kamar di kosanku atau pun kamar di rumahku). Aku selalu mempersilahkannya membaca buku-bukuku ”neh di baca, biarpun lu gak kuliah, tapi lu punya banyak temen-temen yang kuliah, lu manfaatin. Baca buku-bukunya, biar lu juga gak kalah ma mereka” masih teringat jelas dalam benakku saat itu Ardi hanya merespon pernyataanku tadi dengan sebuah senyuman. Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB , Ardi pun berpamitan pada keluargaku karena besok dia harus kembali bekerja. hebat ya sahabatku ini !!! (jujur, aku bangga sekali pada sikap disiplinnya, karena banyak lulusan S1 yang tidak punya disiplin waktu seperti dirinya).
Dua minggu setelah kejadian itu, tibalah saatnya seluruh umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat tarawih pertama di tahun 2009. Seperti biasa, aku selalu menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat tarawih di masjid yang terletak di daerah rumahku yang dulu agar dapat bersilaturahmi dengan teman-temanku disana, tempat dimana aku tumbuh, dan berjumpa dengan Ardi.
Selepas tarawih, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Umar mengajakku untuk menjenguk Ardi yang terserang demam berdarah dan di rawat di sebuah rumah sakit di daerah Gaplek. Malam itu kami pun berangkat ke rumah sakit, membawa buah dan peralatan tidur untuk Ibunya Ardi yang pada saat itu ada di rumah sakit dan tidak membawa peralatan tidur. Aku,Umar dan Angga berangkat menggunakan sepeda motor sambil membopong kasur serta bantal untuk Ibunya Ardi.
Sesampainya di rumah sakit, kutatap sosok Ardi yang sangat lemah dan kurus. Dia tersenyum pada kami, Ibunya mempersilahkan kami masuk. Ardi dirawat di ruang yang kurang layak. Perih..perih aku menyaksikan itu semua. Ruang rawatnya berdesak-desakkan dengan pasien lain. Tak berapa lama, mama Ardi pun berkata ”duuh.. maaf ya sempit, abisnya ibu gak ada uang buat sewa kamar yang lebih bagus” Aku dan Umar dengan kompak menjawab ”aaah..bu jangan ngomong kaya gitu, rejeki gakan kemana koq bu.. sabar aja yaa bu.. yang penting sekarang Ardi Istirahat”, tiba-tiba si ’cingmin’bertingkah ”apaan w sehat koq, duh w pengen ngerokok neh, ada rokok gak lu put?” spontan kujawab ” dasar gebleg,. nooh lu liat impusan banyak bener, jangan tengil lu,. Udeh istirahat aje nyang bener”. Kami berbincang sekitar 20 menit, setelah itu kami berpamitan Ardi pun tersenyum saat berpisah di pintu kamar rumah sakit. Sebuah senyum yang khas Ardi. Kami pun berlalu sambil berteriak ”cepet sembuh ya di !!!”.
Itulah terakhir kalinya aku berjumpa dengan Ardi.
Aku tersadar dalam lamunanku, karena ada rasa panas dan perih di sekitar jari tanganku. Sungguh sebuah refleksi yang panjang. Rokok yang ada di tanganku pun sudah tak berwujud sebagaimana mestinya. Ternyata tanganku terbakar oleh bara rokok. Aku menahan perih dan mulai berdiri. Lalu aku berpamitan pada orang tuaku karena aku harus bergegas menjemput almarhum. Sebelum aku pergi, Ayahku bertanya ”Mayitnya di semayamin dimana? trus mau dikubur dimana?”, langsung kujawab, ”kata Umar disemayamin di rumah Umar, trus dikubur di Pamulang pah, Abang berangkat yaa.. smlekuum”, aku pun berlalu.
Dalam perjalanan, aku mengirim sms pada pimpinan di kantorku seraya memohon ijin agar dapat datang telat ke kantor, karena aku harus mengikuti proses penguburan jenazah sahabatku ini.
Sesampainya di Rumah Umar, para pelayat sudah berkerumun, aku disambut oleh sahabat-sahabatku yang sedang menangis. Tak lama kemudian, jerit ambulance menghampiri kami semua. Kami semua terdiam. Pintu mobil jenazah terbuka, dan mayat Ardi mulai terlihat. Ardi sudah dibalut oleh kain kafan yang bersih. Kami semua berlomba untuk membopong mayit Ardi ke dalam rumah, namun petugas rumah sakit tidak mengizinkannya.
Almarhum Ardi kini berada di tengah rumah Umar, terbaring lemah dan tak bernyawa.
Satu persatu pelayat masuk, dan kini giliran komunitasku untuk masuk. Di dalam, aku tak kuasa menahan tangisku. Dan saat aku hendak membuka kain yang menutupi bagian kepala Ardi, petugas rumah sakit lagi-lagi melarang kami seraya memberi kode bahwa kepalanya hancur. Astaghfirullah.. aku pun merangkak menuju sudut kaki almarhum, disana kubuka Qur’an yang kubawa dari rumah, dan mulai membacakan Tahlil dan surat Yassin. Tangisku pun semakin tak terbendung. Seorang ibu berusaha menyadarkanku, ”bang putra, udah ikhlasin aja, biar Ardinya tenang yaah..”, aku tersadar dan mulai berusaha menenangkan diri.
Tiba-tiba keluarga Ardi dari Jatinangor berdatangan, nampak Ayah dan ibunya turun dari sebuah taxi burung biru. Nampak para pelayat mulai menenangkan diri untuk menjaga stabilitas emosi agar penyakit jantung ayahnya Ardi tidak berkontraksi. Seketika itu juga suara tangis pecah dari ayah dan ibunya Ardi. Kami semua terdiam, dan mempersilahkan keluarga untuk bercengkrama dengan almarhum tuk terakhir kalinya di dunia. Saat di depan rumah Umar itulah aku banyak bertanya pada sahabat-sahabatku perihal saat-saat terakhir maupun kronologis kecelakaan maun yang merenggut nyawa sahabatku itu.
Ternyata malam itu Ardi baru saja pulang lembur dari kantornya. Menurut penuturan teman kantornya, hari itu Ardi tidak seperti biasanya Ardi yang tidak pernah vokal saat meeting, hari itu Ardi sangat vokal terlebih saat membahas pekerjaan yang akan dikerjakan esok hari. Menurut penuturan rekan sekantornya Ardi sempat berucap ”jaaah,. kenapa tunggu besok? Udah selesein aja sekarang. Kalo bisa sekarang kenapa ditunda-tunda?”. Maka dari itu malam itu Ardi lembur bersama kawan-kawan di kantornya. Sedangkan menurut penuturan adiknya (si Fahmi) kakaknya hari itu punya perangai yang aneh, biasanya bila Ardi masuk siang, dia jarang bangun pagi. Namun hari itu, setelah menunaikan shalat subuh, Ardi tetap terjaga, malah menyempatkan diri untuk memberihkan kamar kontrakannya sampai detail (kolong meja dan belakang lemari pun dibersihkan olehnya) Fahmi sempat bingung, tapi toh semua itu tidak diambil pusing oleh Fahmi dan hanya dianggap kejadian biasa.
Kisah lainnya kudapat dari budi dan Umar. Menurut penuturan mereka, Ardi belum sempat berlebaran secara langsung dengan kedua orang tuanya dikarenakan dapat jadwal lembur di kantornya. Astaghfirullah.. Dan rencananya baru akan pulang hari minggu nanti. Aku pun bergumam, ”padahal tinggal dua hari lagi ya Allah...” 1 Oktober 2009 jatuh pada hari kamis, tinggal dua hari lagi Almarhum bisa berjumpa dengan kedua orangtuanya dan berlebaran. Aku teringat pada saat aku menjenguknya di rumah sakit dan mulai menghitung mundur. Subhanallah.. ternyata saat itu Ardi sudah jadi mayit, Menurut keyakinanku, 40 hari sebelum seorang manusia didatangi oleh malaikai maut, maka masa-nya sudah berakhir dan para malaikat sudah menyebutnya mayit. Aku pun mulai menceritakan pada sahabat-sahabatku bahwa belum lama ini almarhum berencana membeli laptop. Mereka menjawab, ”itu karena dia pengen kuliah put” dan aku pun terkejut !!!
Ternyata Ardi ingin membeli laptop karena dia sudah menabung untuk biaya kuliah, dan mungkin laptop akan digunakannya sebagai media penunjang perkuliahannya nanti. Subhanallah... diiiii... HEBAT semangat lu sob.. Hebaaaaat... aku memuji dalam tangis haruku pada semangat almarhum !!!
Dan tibalah aku pada kisah yang paling mengejutkan, ternyata motor Almarhum memang sedang tidak sehat. Tali gasnya terkadang berkontraksi tanpa diperintah, dan rencananya baru akan dibenahi pada hari jumat 2 Oktober 2009. Sebenarnya sahabat-sahabatku yang lain sudah membujuk Ardi untuk segera membenahi motornya, namun Ardi bersikeras agar dibenahi pada hari Jumat saja. Tiba-tiba aku mulai bertanya ”kenapa harus hari jumat?”, mereka pun menjawab, karena pas hari jumat tuh Ardi libur, nah die juga maw sekalian daftar kuliah” Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar.., jantungku seolah berhenti sejenak mendengar kisah tersebut. Tangisku pun kembali jatuh membasahi pipiku.
Tak lama kemudian, Jenazah Ardi pun siap untuk dishalatkan, ayah Ardi terus saja memegangi dadanya sendiri seolah menahan sakit pada bagian jantungnya. Aku khawatir sekali melihatnya. Shalat mayit pun dimulai, setelah salam, Bapak Hafidz, ustadz di sekitar rumahku berkhutbah singkat, di akhir khutbah pak Hafidz bertanya, ”sebelum kita antar almarhum ke peristirahatan terakhirnya, saya maw bertanya kepada hadirin semua, apakah almarhum ini orang yang baik?” Dengan lantang dan tegas kami semua menjawab ”YA, ALMARHUM ORANG YANG BAIK” pertanyaan itu pun diulang sampai 3 x, dan kami akhiri dengan jawaban yang sama ”YA, ALMARHUM ORANG YANG BAIK” (dan air mataku kembali jatuh).
Setelah itu, kami pun bersiap memberangkatkan Ardi ke peristirahatan terakhirnya..
Saat tiba di area pemakaman, nampak para sahabat dan kerabat berkerumun mengantarkan alamarhum ke peristirahatan terakhirnya. Tibalah kami di tepi kubur, Jutaan do’a kami ucapkan sebelum Ardi masuk ke dalam liang lahat. Mayit pun diangkat dari kurung batang dan mulai dimiringkan dan..... Astaghfirullah di area punggung almarhum darah masih bercucuran.. aku tak kuasa menahan perih menyaksikan pemandangan itu, seraya memahami mengapa para petugas rumah sakit tidak pernah mengizinkan seorang pun menyentuh bagian kepala almarhum.
Jasad Ardi diletakkan di dalam liang lahat, bantal pun disiapkan, diantara semua yang hadir, hanya ayah Ardi yang tidak menyaksikan prosesi tersebut, Ayah Ardi dijaga ketat oleh beberapa kerabat agar penyakit jantungnya tidak berkontraksi. Kami pun amat sangat memaklumi hal tersebut.
Tali pocong jenazah Ardi mulai dibuka, dan... Allahu Akbar,..sekilas aku melihat bagian wajah sahabatku Ardi,.. Allahu Akbar..Allahu Akbar.. sungguh perih sakaratul mautmu sobat.
Seorang kerabat dari keluarga Ardi pun mengumandangkan Adzan di telinga ardi, lalu satu demi satu gumpalan tanah mengubur jenazah sahabatku itu. Batu nisan pun kini sudah berdiri tegak di tepi kubur. Diawali dengan do’a, maka ini semua pun akan diakhiri oleh derasnya do’a bagi almarhum. Setelah semua pelayat pergi, aku menyempatkan diri untuk berdo’a secara pribadi pada sahabatku itu. Jujur, sangat susah menahan dukaku saat itu.. aku yakin milyaran do’a akan mengiringi kepergianmu sobat.
Selamat jalan sahabatku,. beristirahatlah dengan tenang, aku berdo’a semoga kepergianmu ini menjadi cambuk tersendiri bagi kami semua yang masih hidup. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku. Sejuta kenangan yang pernah kita lalui, tentu tidak akan pernah pudar walau waktu memakan ragaku. InsyaAllah kita akan berjumpa lagi..
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar