Hari ini aku termenung di sebuah meja kantin. Pandanganku tertuju pada gundukan tanah yang ada di seberang kantin. jutaan masalah terus melintas dalam otakku.."uuuuuuuuukkkh.." aku pun menjerit. Dengan tatapan yang perlahan mulai basah, kutatap tanah yang ada di hadapanku dan mulai berpikir serta memaknai. Tanah, dari sanalah aku tercipta. Tiba-tiba ada seekor burung dan cacing yang menyadarkanku dari lamunan kosong. terjadilah kejadian menakjubkan layaknya kisah Habil dan Qabil yang menyadarkanku bahwa ALLAH SWT itu sayang padaku.
Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan such as kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Setiap pagi burung keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu, kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan untuk keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia.
Namun, yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis
akan makanan yang dijanjikan ALLAH SWT. Lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan dilain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung. cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, cakar dan tanduk. Tetapi ia adalah makhluk hidup dan sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membenturkan kepalanya ke batu.
Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ? Mengapa manusia yang diberi akal, banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi? Padahal belum pernah kita lihat burung atau cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.
Terima kasih Alam..
Terima kasih Masalah..
sungguh sebuah karunia yang tak terhingga dapat menyaksikan keseimbangan alamMu ya RaBB..
Subhanallah..
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar