pamulang 8 Oktober 2008,..senja sudah berlalu dan malam mulai menyelimuti daerah pamulang, aku bersiap untuk pergi ke bandung. sebelum berangkat, aku pamit pada kedua orang tuaku dan adik2ku,..aku sampai di bandung tepat tengah malam dan sampai dikosan pada pukul 00.30 dan kalender pun sudah berganti menjadi 9 oktober 2008. Aku langsung tidur karena besok ada yang harus kukerjakan dimana aku akan mendaftarkan diriku untuk mengikuti ujian komprehensif di Jurusan Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Pagi itu aku bangun agak telat, sesegera mungkin aku bersiap untuk pergi ke kampus. Sesampainya di kampus aku langsung ke ruang jurusan di gedung 3, dan mencantumkan namaku di daftar peserta sidang komprehensif bulan november. Saat itu aku hendak menelepon seorang gadis yang sekiranya patut kukabari, karena kami memang sama2 berjuang untuk bulan november. namun entah mengapa aku mengurungkan niatku tadi. dan bergumam "ah ntar aja ngasih tawnya sekalian ngucapin met ultah bwat dia bulan november nanti". Setelah itu aku melangkahkan kakiku ke kantin kampus untuk membeli sebatang rokok mild dan segelas air mineral. Setelah itu, aku pun melangkah meninggalkan kantin untuk pulang ke kosan. Tapi tiba2 seorang sahabat yang bernama Akbar berkata, "put, nti dateng ya ke acara hima. temenin w, w jadi pembicara neh", aku pun menjawab "okay siap, toh dikosan juga w gada kerjaan"..
Aku pun duduk di plasa Fikom Unpad sambil menghisap rokok yang tadi baru saja kubeli. Di lokasi ini aku bertemu dengan sahabatku Rezkijatianing dan beberapa adik2 angkatan 2005 such as Hafidz, andez, melon dan budi.. kami berbincang cukup seru dan berakhir saat kami hendak mengahadiri acara Hima Humas di ruang moestopo gedung 4. Acara berlangsung lancar dan akbar pun telah selesai memberikan pengarahan pada para peserta forum. Kami langsung bergegas untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Namun sebelum pulang kami sempat berbincang lagi di koridor antara gedung 4 dan 3. Namun ketika kami sedang asik berbincang,..telepon selularku berdering. Ternyata Pak Bambang yang meneleponku. Beliau adalah rekan kerja papaku di kantor. Namun ada yang janggal pada saat itu, Pak Bambang berbicara tidak seperti biasanya dan terkesan sok asik bahkan ngelantur dan dia mengakhiri pembicaraan di telepon itu dengan menanyakan nomer telepon selular mamaku yang sekiranya aktif untuk dihubungi. Karena menurut penuturannya, telepon selular mamaku yang nomernya ada di telepon selularnya, tidak bisa dihubungi. Saat itu aku sempat berpikir "hmmm...biasanya kalo pak Bambang nanya telp mama, berarti hp papa lagi gada yang diaktifin alias papa maw istirahat dari kesibukan di kantor yang telah menguras waktu dan tenaganya" tapi entah mengapa aku tiba2 berpikir "oh, mungkin lagi urgent banget neh di kantor, coz sebelum aku pulang ke bandung papa lagi sibuk parah mpe jarang tidur". Singkat cerita, kuberikan nomer telepon selular mamaku pada Pak Bambang, dan dia pun mengucapkan terima kasih dan pembicaraan pun berakhir.
Adzan maghrib menggema di seantero kampusku,..aku dan beberapa sahabatku bergegas pulang. Saat itu aku diajak maen ke kosan sahabatku yudha untuk sekedar belajar bersama. Akhirnya, aku, Yudha, Akbar dan Surya pun bergegas pergi menuju kosan Yudha. Kami pun asik berdiskusi dan bercanda seraya melepas kangen karena sudah jarang bertemu satu sama lain. Namun ketika sedang asik tertawa, tiba2 telepon selularku kembali berdering. Ternyata Adikku yang menelepon. Aku agak kaget ada apa dia menelpon jam segini, saat itu sudah pukul 22.00 WIB. aku pun mengangkat telepon tersebut. Tiba2 bergetar seluruh tubuhku mendapati adikku sedang menangis di kejauhan sana "astaghfirullah ada apa ini?" (gumamku), "ada apa neng? tanyaku. adikku langsung menjawab "bang kita kena musibah" aku makin lemas "ada apa?ada apa? "abang tenang dulu,..papa kena strok tadi sore !!!"
LEMAS seluruh tubuhku mendengar kabar tersebut. aku pun terdiam. "Mungkin ini yang meyebabkan pak Bambang tadi bicara agak tidak karuan dan menanyakan no telp mamaku, pasalnya menurut penuturan adikku papa kena strok pukul 17.00 WIB. Jam segitu biasanya papaku masih produktif dengan segudang pekerjaannya,.dan yang membutku tambah khawatir adalah papaku sedang tidak bawa sopir hari itu,.mudah2an papa kena stroknya nggak pas lagi bawa mobil", gumamku. Sahabat2ku bertanya "ada ape put?" aku pun menjelaskan perihal kabar yang baru saja kudapatkan. Tanpa ada niat tuk membuang2 waktu aku pun bergegas untuk pulang ke jakarta. aku pun tak kuasa tuk membendung air mataku, enth sudah berapa tetes air mata yang jatuh membasahi pipiku. Akbar menawarkan jasa tuk mengantarku sampai tempat perhentian bus. Aku setuju dan setelah pamit pada sahabat2ku, kami pun berangkat menuju daerah cileunyi. Ujian komprehensif esok sudah tidak kupikirkan lagi. Sepanjang jalan aku hanya terdiam, tatapanku kosong. Akbar berusaha menyadarkanku dan mengajakku berbicara seraya memberi semangat. Tak terasa, sampailah kami di tempat yang kami tuju. Bus yang kucari belum datang, aku pun menunggu dengan perasaan yang kacau balau. "tenang put, jangan mikir yang macem2" kata akbar, aku hanya terdiam dan mulai meracau. "songong c,.dah w bilang istirahat2, eh malah ngeyel,..sekarang kejadian kan, aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgggghhhhhhhhh..." aku berteriak mengeluarkan isi hatiku tanpa terkontrol.
Akbar terdiam melihat sikapku ini dan mungkin dia bingung harus berbuat apa pada diriku ini.
Bus yang kunanti akhirnya datang. aku pun berpamitan pada akbar dan bergegas naik ke dalam bus. Saat itu keadaan bus sangat penuh namun untungnya aku masih kebagian tempat duduk. Setelah duduk,..aku kembali terdiam, menangis dan berpikir menerawang. Mengapa aku resah? Hal ini dikarenakan dalam keadaan seperti ini di keluargaku itu ada budaya bohong. artinya, ketika terjadi sesuatu yang buruk pada salah seorang anggota keluarga, pasti anggota keluarga yang lain dibohonbi dengan cara memberi kabar bahwa si anu keadaannya setingkat lebih baik dari keadaan yang sebenarnya. Dan parahnya, akulah yang biasa ditugasi tuk melakukan hal tersebut. hffffff,.. semakin kacau saja pikiranku saat itu. aku mencoba menenangkan diri, namun semua dosaku pada kedua orang tuaku khususnya papa yang saat itu sedang sakit membuatku kembali menangis dan menangis. Semua kenangan bersama papaku dari sejak aku kecil sampai detik itu hilir mudik dalam alam bawah sadarku. Begitu pula testimoni serta fenomena2 yang sering kulihat dan kudengar dari beberapa sahabat yang sudah menjadi yatim hilir mudik pula di benakku. Such as Kisah hidup Tri Nova, Deny, Anggun, Riri, opi, karina dan masih banyak lagi yang sudah menjalani kehidupan sebagai anak yatim semakin membuatku tertegun dan mencucurkan air mata. belum lagi kisah papaku yang sudah menjadi yatim piatu,. dulu saat aku masih brutal, papaku sering bilang,.."jangan sia2kan waktu yang abang punya, umur gada yang tahu, syukur kalo abang umurnya panjang dan masih bisa tobat, tapi kalo ngga? syukur kalo papa mama umurnya panjang, kalo ngga? liat papa,. biarpun hidup dah seperti sekarang, tetep aja HAMPA,.ga bisa balas budi dan kasi unjuk ke orang tua. hanya bisa berdoa di tepi batu nisan yang bisu."
aku semakin larut dalam kesedihanku,..pada beberapa sahabat yang sudah menjadi yatim aku sering berucap" kalian hebat, tegar,..kalo w c, hhhhhhhh,...gakan kuat kayanya" dan yang membuatku semakin meratap adalah dosa2ku dimasa lalu serta ketakutanku yang teramat sangat saat aku memutuskan tuk hidup merantau yang tak lain adalah mendapat kabar semacam ini. "Ya Allah jaga papaku" doaku disela tangisanku. entah mengapa, laju bus kali ini terasa lambaaaaaaaaaaaaaaaaat sekali,.padahal aku ingin sekali segera tiba di jakarta.
Pukul 00.27 Aku tiba di terminal lebak bulus,.aku langsung berlari mencari angkutan umum yang mengarah ke daerah rumahku. Namun sejenak aku berpikir, "aaaaaah,..kelamaan mending naek taksi aje" aku pun masuk ke dalam sebuah taksi burung biru, dan berucap "pak, ke pamulang dua ya,.lewat tol aja biar cepet" di perjalanan aku sempat melirik ke arah mesin argo, lalu aku mencari uang di dompetku untuk persiapan membayar saat turun nanti,. Dan ternyata uangku tinggal 10.000 rupiah dan uang itu langsung raib untuk bayar tol. "Shit" gumamku,.namun kedongkolanku itu tak berlangsung lama karena aku berpikir "ah,..nti minjem duit pembantuku aja di rumah" seperti ada malaikat yang mengantarku,.tak terasa taksi pun sudah sampai di depan rumahku. aku terhenyak karena situasi rumahku sepi sekali, aku pun membunyikan bel dam mulai gelisah, takut2 tidak ada orang di rumah dan taksi tidak terbayar, sedangkan aku tidak tahu papa dirawat dimana.
Tiba2 pembantuku keluar dan membukakan pintu, aku langsung meminjam uang beliau dan membayar tagihan argo taksi tersebut. Ternyata di dalam rumah adik2ku sudah pada tidur dan mereka baru saja pulang dari rumah sakit. ketika aku sedang berbincang dengan pembantuku perihal masalah papaku, tiba2 adikku yang pertama terbangun dan langsung memelukku dengan erat sambil terisak. aku semakin bingung, namun aku mulai tersadar, "aku harus bisa jadi imam di rumah ini, dan mulai menenangkan situasi" aku pun mewawancarai adikku itu perihal keadaan papaku,.sekilas aku melihat adik bungsuku sedang tertidur pulas dengan bekas air mata yang mengering di pipi lembutnya. Tak berapa lama pembicaraan ku hentikan dan aku bersiap tuk menuju rumah sakit. Aku pun bertanya "rumah sakit mana neng?" Omni international hospital bang, yang di alam sutera" waduh dimana ya,..itu Rumah sakit baru ya?" tanyaku lagi "iaa,..tapi gampang koq depan Mc D alam sutera banget" jawab adikku. Namun ketika aku hendak menuju garasi mobil, adiku berkata "abang maw kemana? kata mama tunggu dirumah aja, jagain ade tia. coz peraturannya yang boleh jaga pasien cuma 1 orang" ujar adikku,..aku langsung menjawab "aaaaaah,..siape yang bikin tu peraturan? masa w maw ketemu bapak w yang lagi sekarat mpe kagak boleh, udeh lu jaga rumah aje,..w maw kesana sebentar, w blum bisa tenang kalo blum liat papa secara langsung" kataku, dan aku pun segera menyalakan mesin mobil dan meluncur ke rumah sakit.
Seperti yang diutarakan oleh adikku tadi, ternyata rumah sakit itu tak terlalu sulit untuk ditemukan, dan aku pun sering melintas di daerah tersebut, hanya saja tak pernah sadar kalo disana ada rumah sakit. Saat itu waktu menunjukkan pukul 02.12 WIB. Dan kelender ppun sudah berganti lagi menjadi tanggal 10 Oktober 2008 Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bergegas untuk masuk. namun tiba2 adik bungsuku menelpon, "aa dimana?" ujarnya, "aa dirumah sakit de,..ade bobo aja yah,,aa cuma sebentar koq,..doain papanya yah" kataku seraya mematikan telepon tersebut dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.
Sial, semua pintu ditutup, aku mencoba masuk dari pintu parkir dan langsung menuju tangga darurat, kata adikku kamar nomer 406 lantai 4. aku langsung menaiki anak tangga sampai lantai 4, namun ketika pintu di lantai 4 hendak kubuka,.ternyata pintu itu pun terkunci,. "shit" gumamku, aku pun turun lagi dan mencoba mencari jalan menuju lobi rumah sakit. Sesampainya disana aku ditegur oleh seorang satpam "selamat malam mas, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya, "oh saya maw ketemu papa saya yang masuk tadi sore di lantai 4. jawabku, "maaf mas, di atas sudah ada yang menunggu, peraturannya hanya boleh satu orang yang menjaga pasien", lanjutnya, aku pun menjawab "pak, maaf yah, saya maw tanya deh,..kalo bapak Anda lagi sekarat, apakah bapak tidak ingin segera bertemu dengan beliau?" kataku, "waduh maaf mas peraturannya emang begitu", ujarnya, aku tidak lagi menanggapi satpam tersebut dan langsung bergegas untuk masuk ke dalam lift. Namun satpam itu malah maju dan menahan tubuhku yang sedang berusaha keras masuk ke dalam lift. Dalam keadaan seperti itu, putra yang dahulu tiba2 muncul dalam sosok putra yang sekarang. Aku langsung berontak dan mencengkram batang lehernya,.."oi,,.pak biasa aja donk,..emang w maling, ampe dipiting2 segala" ujarku. Satpam itu malah menatapku dengan mata yang membelalak. aku pun berujar "oi,,.pak,.. kalo maw pake mata kaya gtu jangan ke w,..salah orang lu" setelah aku selesai berujar seperti tadi,.. tiba2 datang seorang satpam lagi dan melerai kami berdua. "ada apa ini?" sanggahnya,.sambil tetap memiting leher satpam yang pertama aku pun menjawab "ini nih temen Anda miting2 saya segala dah kaya maling padahal saya cuma maw jenguk bapak saya yang lagi sekarat, masa sedikitpun gak punya rasa emphaty, emangnya saya maw ngapain c? bikin party? bikin berisik? bakar kembang api? hah? hah? hah? saya cuma maw liat keadaan papa saya aja koq. that's all, saya tahu posisi bapak terhadap peraturan,.tapi liat liat sikon dong, toh saya cuma maw jenguk papa saya aja..ataw saya perlu ijin langsung ke manajemen rumah sakit ini untuk sekedar dapat ijin jenguk papa saya yang sedang sekarat? Saya gakan bakar kembang api koq di dalem sanam cuma maw jenguk that's all. saya hidup merantau..jauh dari orang tua,..sekarang papa saya sekarat di atas, saya ingin liat kondisi beliau aja" kataku. Akhirnya satpam yang kedua memintaku dan satpam pertama untuk melepas pitingan, dan mulai berucap "saya paham mas,..mohon maaf atas sikap rekan saya tadi, kalo boleh taw, nama ayah mas siapa ya? masuknya kapan?" tanyanya, "pak Dede Rohiman, strok tadi sore" jawabku. "oooh ini mas putra yang dari bandung ya, ayo silahkan naik,.maaf atas kejadian tadi,.mas sudah ditunggu oleh mamanya di atas" ujarnya. aku pun terdiam dan mengucap terima kasih serta mohon maaf pada satpam yang pertama tadi. Namun setelah itu sejuta tanya dalam benakku, "ada apa ini? koq mama dah nunggu kedatanganku?" aaaaaaaaaaahhhhhhhh,...aku mencoba untuk membuang pikiran2 aneh dalam otakku selama aku di dalam lift.
Sesampainya di lantai 4, aku langsung mencari kamar 406,.dua orang suster meyapaku dan berkata,."mas putra ya?, maw liat papanya? boleh aja, tapi jangan berisik, dan kalo bisa jangan nangis di depan papanya yah !" uharnya. aku pun mengangguk dan mulai membuka pintu kamar sesampainya di dalam kamar tirai di ruang papaku pun kusibakkan..
yang kulihat saat itu adalah papaku tergolek lemas di pembaringan dan mamaku yang sedang mengaji di samping papaku. aku tak kuasa menahan air mataku, seketika itu pula aku menangis,.namun mamaku tersadar akan kedatanganku dan mencoba menenangkanku dan berucap "jangan nagis depan papa, emosinya papa ga boleh keganggu" kata mama. Aku berusaha menuruti arahan mamaku. Dan tiba2 papa terbangun dan mulai menatapku. aku pun langsung menghampirinya seraya ingin menyalami tangannya,..namun apa yang kulihat sungguh perih rasanya,.tangan papa sudah tidak bisa bergerak,. MATI,..MATI,..tubuh bagian kanan papa semua mati, bibir papa yang sebelah kanan pun terlihat tak kuasa menahan gravitasi bumi.
"YA ALLAH,.. ujian apa lagi ini?" gumamku dalam hati
papa menatapku tajam dan mulai berbicara, namun.................. aaaaah,...eeoh,..uuuh...
"YA ALLAH papaku sudah tak bisa berbicara dengan jelas lagi" jeritku dalam hati
aku mencoba menangkap apa yang papa coba utarakan,..namun tetap saja aku tidak mengerti,.. lalu papa memberi kode dengan menggerakkan tang sebelah kirinya yang masih hidup seraya menunjukkan suatu kegiatan. Tetap saja aku tidak mengerti. Namun untungnya mamaku paham apa yang papaku coba utarakan kepadaku,.untung mama adalah seorang guru SLB dan mengetahui bahasa isyarat papaku yang dulu juga seorang guru SLB di yayasan Santi Rama Jakarta.
mamaku mulai menterjemahkan, " kata papa, maaf yah keadaanya jadi kaya gini,.gimana skripsi aa? maaf papa belum sempet transfer uang kerekening aa"
"ASTAGHFIRULLAH,......." dalam keadaan dirinya yang sekarat pun papa masih ingat pada diriku dan segudang tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga..
"udah gampang skripsi abang mah,..uang juga gampang rejeki mah ga akan kemana koq,..yang penting mah sekarang papa otaknya harus tenang yah,..bebasin aja pikirannya,..abang mah gampang,..udah papah bobo ja lagi yah" ucapku seraya mencium kening papa dan menyuruhnya untuk tidur kembali..
YA ALLAH,..aku tak kuasa menahan tangisku melihat keadaan papaku.. sosok seorang laki2 yang menjadi idolaku,.jagoanku,..tempat aku mengadu saat aku dijahili waktu aku masih kecil,..orang yang mengajariku berhitung,..naek sepeda,.naek motor,..mobil,..bela diri,..konsep hidup,..manajemen,.. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh,...sekarang dia hanya bisa tergolek tak berdaya,..entah sudah berapa tetes air mataku yang jatuh ke lantai ruang rawat inap itu.
Mamaku mencoba menenangkanku..aku pun tersadar,.."harusnya aku yang menjaga mama" aku pun meminta mma untuk lekas tidur dan biarkan aku yang menjaga mereka berdua malam itu. mama pun setuju dan aku duduk di sebelah kiri papa,.sedangkan mama tidur dengan posisi duduk di sebelah kanan papa..
ketika mama sudah mulai tertidur,..aku beranjak dari kursi dudukku,..dan berjalan ke arah jendela,...disana lagi2 aku menangis..menangis dan menangis,..
malam itu aku terjaga sampai pagi. sambil terus memanage pola pikirku agar tetap tenang dan mempersiapkan diri menggantikan papa untuk sementara waktu sebagai imam di keluarga yang dulu di bangun dengan penuh perjuangan, cinta dan sejuta kasih sayang oleh pasangan muda yang bernama Dede Rohiman dan Siti Fatimah.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar