Pagi itu tepat pukul 04.55 WIB aku baru saja selesai menunaikan ibadah shalat subuh dan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Lampu kamar kumatikan dan pintu kamar pun sudah kukunci. Aku melangkah pasti menuju teras depan rumahku, dan tiba-tiba terdengar suara kodok sawah dari telepon selularku, oh ternyata ada sms, tapi dalam hati aku bergumam "busyeh,.makhluk mane yang ngontak w pagi2 buta, da ape neh?", langsung saja kubuka sms tersebut, dan........
Setahun yang lalu aku dikejutkan oleh dering telepon tengah malam yang ternyata membawa kabar bahwa papaku terserang strok, dan tepat tanggal 1 Oktober 2009 pukul 05.14 WIB, saat mentari pun belum sepenuhnya menatap dunia, aku harus menerima sebuah sms singkat yang mengabarkan bahwa seorang sahabatku telah pergi tuk selamanya dengan cara yang sangat mengenaskan. Seorang sahabat yang polos, baik dan selalu ingin membahagiakan kedua orangtuanya.
Sejuta asa berkecamuk dalam benakku. Aku tak kuasa membendung semua asa tersebut dan seolah tak percaya. Aku terduduk diam di sebuah kursi. Seketika muncul ibuku lalu beliau bertanya ”koq belum berangkat ke kantor?” aku pun menjawab, ”belum, lagi bingung. Ardi meninggal”. Ibuku spontan terkejut, ”Innalillahi wainnailaihi rajiun, Ardi anaknya pak yayat? Kapan? Kenapa?”. Aku pun membacakan sms yang tadi berhasil membuatku lumpuh asa. ”Ardi meninggal pukul 03.30 karena terlindas truk di jalan gintung”, mamaku pun mengelus dadanya seraya berdo’a. Lalu mama menyuruhku membantu mengurus jenazah sahabatku itu. Aku mengangguk, namun perasaan terkejut ini masih menyelimutiku sehingga kakiku ini tak sanggup tuk menopang berat tubuhku
Tak berapa lama aku mulai menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya sambil tetap duduk di kursi. Jiwaku menerawangm dan semua kenangan bersama alamarhum pun satu persatu mulai berkibar di dalam asaku.
Refleksi,
Ardi, aku mengenalnya saat aku berumur 4 tahun. Namun pada saat itu kami belum satu permainan. Saat aku berumur 11 Tahun barulah kami tergabung dalam sebuah komunitas dan berada dalam satu komunitas yang selalu penuh dengan canda dan tawa. Ardi adalah anak yang baik. Aku dan teman-teman yang lain biasa memanggil Ardi dengan panggilang ’cingmin’ heuheu.. mengapa demikian? Ya, karena perawakan Ardi yang mirip keturunan tiong-hoa tapi berkulit coklat. Ardi pun bukan dari keturunan ting-hoa, Ardi adalah seorang anak sulung dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki, mereka adalah Ardi, Fahmi dan Haris. Cingmin pun hadir sebagai wujud nyata kami dalam merespon tingkah konyol almarhum semasa hidup. Kembali pada topik ’cingmin’ heuheu,. Ardi adalah sosok yang baik, menyenangkan dan sangaaaaat polos. Saat kami sudah mulai nakal, Ardi masih ’cupu’ karena memang pada dasarnya Ardi tidak pernah berani melawan arus. Saking polosnya, banyak sekali sketsa lucu bersama almarhum. Begitulah filosofi sederhana kenapa almarhum Ardi dipanggil ’cingmin’ sebuah nama yang menyiratkan bahwa seolah dia adalah keturunan tiong-hoa dan sangat polos. Sebuah nama panggilan yang ’nyeleneh’ tapi punya kisah yang kuat.
Perjalanan hidup keluarga Ardi cukup perih. Mudah-mudahan Allah SWT selalu melimpahkan rahmatnya pada keluarga almarhum. Pada saat kami duduk di bangku SMP, Ayah Ardi di PHK oleh kantornya. Lalu Ayah dan ibunya membuka usaha rumah makan kecil-kecilan, tapi tak berapa lama usaha tersebut bangkrut. Saat kami SMA, AYAH Ardi terserang penyakit jantung yang cukup parah dan sangat menguras keuangan keluarganya. Lalu pada saat aku duduk di bangku kuliah, Ardi tidak meneruskan pendidikannya ke bangku kuliah karena kurang biaya. Yang lebih mengejutkan adalah pada saat Ardi berkunjung ke kosanku di Jatinangor, awalnya aku pikir Ardi memang menyempatkan diri tuk berkunjung menemuiku. Tapi ternyata Ardi sekeluarga sudah pindah rumah ke Jatinangor karena tidak kuat dengan beban hidup di Jakarta. Aku tercengang, masih jelas dalam ingatanku bahwa pada saat itu aku manatap matanya tajam seraya berucap dalam hati ”ya ampun di, perih amad idup lu”.
Sejak saat itu, Ardi jadi sering sekali berkunjung ke kosanku. Entah untuk sekedar numpang istirahat bahkan kadang hanya untuk menonton film dikamar kosanku hingga akhirnya pasti diakhiri dengan sesi curhat. Heuheu.. ada sebuah sketsa lucu selama Ardi berlalu lalang dikosanku. Sore itu Ardi berkunjung ke kosanku, namun didapatinya kamarku terkunci, kosong dan gelap. Maka ia pun pulang lagi ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia menelpon ke telepon selularku melalui telepon selular miliknya dan mulai bertanya, ”put, lu dimana? W tadi kekosan lu, tapi elu gak ada”, aku pun bingung dan mencoba menjawab pertanyaan sahabatku itu ”ah w ada koq di, w di kosan w neh dari tadi siang, gak kemana, masih di pondok malaka Indah koq w”, lalu Ardi menjawab, ”w tadi kesana lu gada. Baruuu bgt tadi”, kujawab ”w di kamar si agus di belakang, lu kemari aje, ke kamar yang deket toilet lantai 2”. Tiba-tiba Ardi menjawab, ”yaah..w dah di rumah put, nti dah sejam lagi w kesana”, aku pun bingung ”lah koq dah di rumah, ngapa tadi kagak nelpon w pas masih dikosan w?”, Ardi cingmin menjawab dengan lantang, tegas dan meyakinkan ”Oia, gak kepikiran w” heuheuehuehu... ya.. itulah satu dari sekian banyak sketsa jenaka dari almarhum Ardi.
Di Jatinangor, Ardi dan keluarganya membuka rumah makan kecil-kecilan di daerah Sukawening. Jika sudah tidak ada kegiatan di kampus, aku sering berkunjung ke kedai keluarga Ardi untuk sekedar makan atau bantu-bantu membereskan kedai. Namun karena penyakit ayah Ardi yang semakin menjadi, kedai itu pun tak bertahan lama hingga pada akhirnya harus gulung tikar. Ardi pernah minta tolong padaku agar dicarikan pekerjaan agar dapat meringankan beban orang tuanya. Sudah kulakukan, aku berkeliling Bandung mencari lowongan untuk almarhum, tapi di hotel-hotel yang ada di Bandung pada saat itu, lowongan untuk pemuda yang hanya lulusan SMIP sedang kosong. Minimal harus S1. Ardi pun kecewa mendengarnya. Aku tetap memberi semangat pada sahabatku itu agar tak mudah menyerah, tetap berusaha dan tawakal.
Itulah terakhir kali aku berjumpa Ardi di Jatinangor, karena setelah itu menurut penuturan ibunya, Ardi ternyata hijrah kembali ke Jakarta bersama adiknya yang pertama si Fahmi. Ternyata rezeki Ardi memang disini. Ardi dan Fahmi diterima bekerja di tempat yang berbeda. Fahmi di sebuah restoran cina di bilangan BSD, sedangkan Ardi di sebuah hotel terkemuka di Jakarta pusat.
Setahun lamanya aku tak pernah berjumpa dengannya. Hingga pada suatu ketika Ardi mampir kerumahku. ”Woy put..!!!” sapanya.. senang sekali bisa berjumpa dengannya lagi. Kami pun berbincang di dalam kamarku. Dan ia mulai bercerita tentang hidupnya selama kami tak berjumpa. ”alhamdulillah” itulah yang terucap dibenakku saat mendengar kabar gembira tersebut. Akhirnya sahabatku ini mendapatkan pekerjaan dan bisa membantu meringankan beban orang tuanya. Betapa senangnya hatiku. Namun seperti biasa, aku tak pernah mengekspresikannya secara langsung karena takut tak kuasa menahan genangan air mata haru. Heuheueh.. (dasar cengeng). Masih di dalam kamarku, setelah bercerita panjang lebar, Ardi bertanya padaku ”put, harga laptop berapaan ya?”, lalu aku menjawab, ”buat apa, koq tiba-tiba lu maw beli laptop?”, yaa buat belajar aja biar ga gaptek” jawabnya. ”oooh.. ya lu buat apa dulu, kalo buat design mah mahal di, tapi kalo cuma buat ngetik doang mah banyak yang murah”, Ardi menghisap rokoknya lalu menjawab pertanyaanku, ”ya itu buat ngetik aja”. ”Ooooh banyak koq yang murah,.. neh w ada beberapa list harga laptop, lu liat-liat aje”. Setelah melihat-lihat aku kembali berucap ”pokonye, jangan mpe lu beli laptop cuma buat gaya-gayaan ye, apalagi kemakan gengsi. Berangkatlah dari kebutuhan ya di” Ardi pun menjawab ”Okei put”. Setelah itu seperti biasa Ardi membaca buku-buku yang ada di kamarku. Memang itulah salah satu kebiasaanya bila sedang berkunjung ke kamarku (baik itu kamar di kosanku atau pun kamar di rumahku). Aku selalu mempersilahkannya membaca buku-bukuku ”neh di baca, biarpun lu gak kuliah, tapi lu punya banyak temen-temen yang kuliah, lu manfaatin. Baca buku-bukunya, biar lu juga gak kalah ma mereka” masih teringat jelas dalam benakku saat itu Ardi hanya merespon pernyataanku tadi dengan sebuah senyuman. Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB , Ardi pun berpamitan pada keluargaku karena besok dia harus kembali bekerja. hebat ya sahabatku ini !!! (jujur, aku bangga sekali pada sikap disiplinnya, karena banyak lulusan S1 yang tidak punya disiplin waktu seperti dirinya).
Dua minggu setelah kejadian itu, tibalah saatnya seluruh umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat tarawih pertama di tahun 2009. Seperti biasa, aku selalu menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat tarawih di masjid yang terletak di daerah rumahku yang dulu agar dapat bersilaturahmi dengan teman-temanku disana, tempat dimana aku tumbuh, dan berjumpa dengan Ardi.
Selepas tarawih, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Umar mengajakku untuk menjenguk Ardi yang terserang demam berdarah dan di rawat di sebuah rumah sakit di daerah Gaplek. Malam itu kami pun berangkat ke rumah sakit, membawa buah dan peralatan tidur untuk Ibunya Ardi yang pada saat itu ada di rumah sakit dan tidak membawa peralatan tidur. Aku,Umar dan Angga berangkat menggunakan sepeda motor sambil membopong kasur serta bantal untuk Ibunya Ardi.
Sesampainya di rumah sakit, kutatap sosok Ardi yang sangat lemah dan kurus. Dia tersenyum pada kami, Ibunya mempersilahkan kami masuk. Ardi dirawat di ruang yang kurang layak. Perih..perih aku menyaksikan itu semua. Ruang rawatnya berdesak-desakkan dengan pasien lain. Tak berapa lama, mama Ardi pun berkata ”duuh.. maaf ya sempit, abisnya ibu gak ada uang buat sewa kamar yang lebih bagus” Aku dan Umar dengan kompak menjawab ”aaah..bu jangan ngomong kaya gitu, rejeki gakan kemana koq bu.. sabar aja yaa bu.. yang penting sekarang Ardi Istirahat”, tiba-tiba si ’cingmin’bertingkah ”apaan w sehat koq, duh w pengen ngerokok neh, ada rokok gak lu put?” spontan kujawab ” dasar gebleg,. nooh lu liat impusan banyak bener, jangan tengil lu,. Udeh istirahat aje nyang bener”. Kami berbincang sekitar 20 menit, setelah itu kami berpamitan Ardi pun tersenyum saat berpisah di pintu kamar rumah sakit. Sebuah senyum yang khas Ardi. Kami pun berlalu sambil berteriak ”cepet sembuh ya di !!!”.
Itulah terakhir kalinya aku berjumpa dengan Ardi.
Aku tersadar dalam lamunanku, karena ada rasa panas dan perih di sekitar jari tanganku. Sungguh sebuah refleksi yang panjang. Rokok yang ada di tanganku pun sudah tak berwujud sebagaimana mestinya. Ternyata tanganku terbakar oleh bara rokok. Aku menahan perih dan mulai berdiri. Lalu aku berpamitan pada orang tuaku karena aku harus bergegas menjemput almarhum. Sebelum aku pergi, Ayahku bertanya ”Mayitnya di semayamin dimana? trus mau dikubur dimana?”, langsung kujawab, ”kata Umar disemayamin di rumah Umar, trus dikubur di Pamulang pah, Abang berangkat yaa.. smlekuum”, aku pun berlalu.
Dalam perjalanan, aku mengirim sms pada pimpinan di kantorku seraya memohon ijin agar dapat datang telat ke kantor, karena aku harus mengikuti proses penguburan jenazah sahabatku ini.
Sesampainya di Rumah Umar, para pelayat sudah berkerumun, aku disambut oleh sahabat-sahabatku yang sedang menangis. Tak lama kemudian, jerit ambulance menghampiri kami semua. Kami semua terdiam. Pintu mobil jenazah terbuka, dan mayat Ardi mulai terlihat. Ardi sudah dibalut oleh kain kafan yang bersih. Kami semua berlomba untuk membopong mayit Ardi ke dalam rumah, namun petugas rumah sakit tidak mengizinkannya.
Almarhum Ardi kini berada di tengah rumah Umar, terbaring lemah dan tak bernyawa.
Satu persatu pelayat masuk, dan kini giliran komunitasku untuk masuk. Di dalam, aku tak kuasa menahan tangisku. Dan saat aku hendak membuka kain yang menutupi bagian kepala Ardi, petugas rumah sakit lagi-lagi melarang kami seraya memberi kode bahwa kepalanya hancur. Astaghfirullah.. aku pun merangkak menuju sudut kaki almarhum, disana kubuka Qur’an yang kubawa dari rumah, dan mulai membacakan Tahlil dan surat Yassin. Tangisku pun semakin tak terbendung. Seorang ibu berusaha menyadarkanku, ”bang putra, udah ikhlasin aja, biar Ardinya tenang yaah..”, aku tersadar dan mulai berusaha menenangkan diri.
Tiba-tiba keluarga Ardi dari Jatinangor berdatangan, nampak Ayah dan ibunya turun dari sebuah taxi burung biru. Nampak para pelayat mulai menenangkan diri untuk menjaga stabilitas emosi agar penyakit jantung ayahnya Ardi tidak berkontraksi. Seketika itu juga suara tangis pecah dari ayah dan ibunya Ardi. Kami semua terdiam, dan mempersilahkan keluarga untuk bercengkrama dengan almarhum tuk terakhir kalinya di dunia. Saat di depan rumah Umar itulah aku banyak bertanya pada sahabat-sahabatku perihal saat-saat terakhir maupun kronologis kecelakaan maun yang merenggut nyawa sahabatku itu.
Ternyata malam itu Ardi baru saja pulang lembur dari kantornya. Menurut penuturan teman kantornya, hari itu Ardi tidak seperti biasanya Ardi yang tidak pernah vokal saat meeting, hari itu Ardi sangat vokal terlebih saat membahas pekerjaan yang akan dikerjakan esok hari. Menurut penuturan rekan sekantornya Ardi sempat berucap ”jaaah,. kenapa tunggu besok? Udah selesein aja sekarang. Kalo bisa sekarang kenapa ditunda-tunda?”. Maka dari itu malam itu Ardi lembur bersama kawan-kawan di kantornya. Sedangkan menurut penuturan adiknya (si Fahmi) kakaknya hari itu punya perangai yang aneh, biasanya bila Ardi masuk siang, dia jarang bangun pagi. Namun hari itu, setelah menunaikan shalat subuh, Ardi tetap terjaga, malah menyempatkan diri untuk memberihkan kamar kontrakannya sampai detail (kolong meja dan belakang lemari pun dibersihkan olehnya) Fahmi sempat bingung, tapi toh semua itu tidak diambil pusing oleh Fahmi dan hanya dianggap kejadian biasa.
Kisah lainnya kudapat dari budi dan Umar. Menurut penuturan mereka, Ardi belum sempat berlebaran secara langsung dengan kedua orang tuanya dikarenakan dapat jadwal lembur di kantornya. Astaghfirullah.. Dan rencananya baru akan pulang hari minggu nanti. Aku pun bergumam, ”padahal tinggal dua hari lagi ya Allah...” 1 Oktober 2009 jatuh pada hari kamis, tinggal dua hari lagi Almarhum bisa berjumpa dengan kedua orangtuanya dan berlebaran. Aku teringat pada saat aku menjenguknya di rumah sakit dan mulai menghitung mundur. Subhanallah.. ternyata saat itu Ardi sudah jadi mayit, Menurut keyakinanku, 40 hari sebelum seorang manusia didatangi oleh malaikai maut, maka masa-nya sudah berakhir dan para malaikat sudah menyebutnya mayit. Aku pun mulai menceritakan pada sahabat-sahabatku bahwa belum lama ini almarhum berencana membeli laptop. Mereka menjawab, ”itu karena dia pengen kuliah put” dan aku pun terkejut !!!
Ternyata Ardi ingin membeli laptop karena dia sudah menabung untuk biaya kuliah, dan mungkin laptop akan digunakannya sebagai media penunjang perkuliahannya nanti. Subhanallah... diiiii... HEBAT semangat lu sob.. Hebaaaaat... aku memuji dalam tangis haruku pada semangat almarhum !!!
Dan tibalah aku pada kisah yang paling mengejutkan, ternyata motor Almarhum memang sedang tidak sehat. Tali gasnya terkadang berkontraksi tanpa diperintah, dan rencananya baru akan dibenahi pada hari jumat 2 Oktober 2009. Sebenarnya sahabat-sahabatku yang lain sudah membujuk Ardi untuk segera membenahi motornya, namun Ardi bersikeras agar dibenahi pada hari Jumat saja. Tiba-tiba aku mulai bertanya ”kenapa harus hari jumat?”, mereka pun menjawab, karena pas hari jumat tuh Ardi libur, nah die juga maw sekalian daftar kuliah” Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar.., jantungku seolah berhenti sejenak mendengar kisah tersebut. Tangisku pun kembali jatuh membasahi pipiku.
Tak lama kemudian, Jenazah Ardi pun siap untuk dishalatkan, ayah Ardi terus saja memegangi dadanya sendiri seolah menahan sakit pada bagian jantungnya. Aku khawatir sekali melihatnya. Shalat mayit pun dimulai, setelah salam, Bapak Hafidz, ustadz di sekitar rumahku berkhutbah singkat, di akhir khutbah pak Hafidz bertanya, ”sebelum kita antar almarhum ke peristirahatan terakhirnya, saya maw bertanya kepada hadirin semua, apakah almarhum ini orang yang baik?” Dengan lantang dan tegas kami semua menjawab ”YA, ALMARHUM ORANG YANG BAIK” pertanyaan itu pun diulang sampai 3 x, dan kami akhiri dengan jawaban yang sama ”YA, ALMARHUM ORANG YANG BAIK” (dan air mataku kembali jatuh).
Setelah itu, kami pun bersiap memberangkatkan Ardi ke peristirahatan terakhirnya..
Saat tiba di area pemakaman, nampak para sahabat dan kerabat berkerumun mengantarkan alamarhum ke peristirahatan terakhirnya. Tibalah kami di tepi kubur, Jutaan do’a kami ucapkan sebelum Ardi masuk ke dalam liang lahat. Mayit pun diangkat dari kurung batang dan mulai dimiringkan dan..... Astaghfirullah di area punggung almarhum darah masih bercucuran.. aku tak kuasa menahan perih menyaksikan pemandangan itu, seraya memahami mengapa para petugas rumah sakit tidak pernah mengizinkan seorang pun menyentuh bagian kepala almarhum.
Jasad Ardi diletakkan di dalam liang lahat, bantal pun disiapkan, diantara semua yang hadir, hanya ayah Ardi yang tidak menyaksikan prosesi tersebut, Ayah Ardi dijaga ketat oleh beberapa kerabat agar penyakit jantungnya tidak berkontraksi. Kami pun amat sangat memaklumi hal tersebut.
Tali pocong jenazah Ardi mulai dibuka, dan... Allahu Akbar,..sekilas aku melihat bagian wajah sahabatku Ardi,.. Allahu Akbar..Allahu Akbar.. sungguh perih sakaratul mautmu sobat.
Seorang kerabat dari keluarga Ardi pun mengumandangkan Adzan di telinga ardi, lalu satu demi satu gumpalan tanah mengubur jenazah sahabatku itu. Batu nisan pun kini sudah berdiri tegak di tepi kubur. Diawali dengan do’a, maka ini semua pun akan diakhiri oleh derasnya do’a bagi almarhum. Setelah semua pelayat pergi, aku menyempatkan diri untuk berdo’a secara pribadi pada sahabatku itu. Jujur, sangat susah menahan dukaku saat itu.. aku yakin milyaran do’a akan mengiringi kepergianmu sobat.
Selamat jalan sahabatku,. beristirahatlah dengan tenang, aku berdo’a semoga kepergianmu ini menjadi cambuk tersendiri bagi kami semua yang masih hidup. Sampai kapan pun kau tetap sahabatku. Sejuta kenangan yang pernah kita lalui, tentu tidak akan pernah pudar walau waktu memakan ragaku. InsyaAllah kita akan berjumpa lagi..
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
aku
kumpulan puzzle kehidupan yang membentuk jiwaku
Rabu, 03 November 2010
air mataku
tidakkah asa itu penuh dengan gejolak?
meratap dibawah pekat
tandai tiap langkah jiwa
aku menangis
sebenarnya siapa mereka?
nalar ini terhalang tembok yang kokoh
melebur dalam jiwa
aku menangis
Adakah dogma yang lebih gawat?
hening malam menunaikan kewajibannya
tersungkur aku dalam sujud
aku menangis
adakah waktu yang tersisa?
ingin rasanya aku mendekap kerinduan
angin malam membelai lembut tubuhku
aku menangis
Jurang itu semakin dalam
tak ada lagi jeda dalam pijakan
Masih adakah pundak tempat aku meneteskan air mata?
kenapa mereka berlari?
kenapa mereka tertawa?
aku menangis
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
meratap dibawah pekat
tandai tiap langkah jiwa
aku menangis
sebenarnya siapa mereka?
nalar ini terhalang tembok yang kokoh
melebur dalam jiwa
aku menangis
Adakah dogma yang lebih gawat?
hening malam menunaikan kewajibannya
tersungkur aku dalam sujud
aku menangis
adakah waktu yang tersisa?
ingin rasanya aku mendekap kerinduan
angin malam membelai lembut tubuhku
aku menangis
Jurang itu semakin dalam
tak ada lagi jeda dalam pijakan
Masih adakah pundak tempat aku meneteskan air mata?
kenapa mereka berlari?
kenapa mereka tertawa?
aku menangis
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
prolog dua generasi
hari ini ramai sekali
hari ini penuh dengan gemuruh
hari ini tak ada kata sepi
hari ini tak ada kata rapuh
hari ini aku belajar
dua hal yang berbeda
dua hal yang bersimpangan
dua hal yang tak terbaca
dua hal yang penuh ancaman
dua hal aku belajar
haruskah aku diam?
haruskah aku bungkam?
haruskah aku tenggelam?
menyerah bukan sifatku
terpaku bukan watakku
dendam bukan pribadiku
mengapa semua diam?
kenapa semua bungkam?
bagaimana jika tenggelam?
aku bukan kamu
kamu bukan aku
bukankah aku bagian dari dirimu?
hei.. jangan batasi kreativitasku !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
hari ini penuh dengan gemuruh
hari ini tak ada kata sepi
hari ini tak ada kata rapuh
hari ini aku belajar
dua hal yang berbeda
dua hal yang bersimpangan
dua hal yang tak terbaca
dua hal yang penuh ancaman
dua hal aku belajar
haruskah aku diam?
haruskah aku bungkam?
haruskah aku tenggelam?
menyerah bukan sifatku
terpaku bukan watakku
dendam bukan pribadiku
mengapa semua diam?
kenapa semua bungkam?
bagaimana jika tenggelam?
aku bukan kamu
kamu bukan aku
bukankah aku bagian dari dirimu?
hei.. jangan batasi kreativitasku !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
parade kesunyian
gelapnya malam
terangnya sang surya
tak bisa pungkiri
ini kenyataan
realita itu perih
pecundang takkan datang
petarung berdiri menantang
ini permulaan
kadang aku ingin berlari kencang bagai masa itu
lalu aku bebas berteriak dalam ruang refleksi
aku berjanji
walau sendiri
akan kuperjuangkan amanah ini
walau harus mati
akan kutebus fitrah dari tekad ini
sedikitpun aku tak akan mundur
pergilah..pergi.. kejar impianmu
aku tak butuh sebuah keraguan
jika kelak kau kembali, tataplah jasadku
aku adalah manusia
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
terangnya sang surya
tak bisa pungkiri
ini kenyataan
realita itu perih
pecundang takkan datang
petarung berdiri menantang
ini permulaan
kadang aku ingin berlari kencang bagai masa itu
lalu aku bebas berteriak dalam ruang refleksi
aku berjanji
walau sendiri
akan kuperjuangkan amanah ini
walau harus mati
akan kutebus fitrah dari tekad ini
sedikitpun aku tak akan mundur
pergilah..pergi.. kejar impianmu
aku tak butuh sebuah keraguan
jika kelak kau kembali, tataplah jasadku
aku adalah manusia
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
dinamika
ketika semua pergi
ketika semua memperkaya diri
aku masih sibuk memperbaiki diri
aku masih sibuk dalam pergolakan jati diri
ketika semua bicara
ketika semua tertawa
aku masih sibuk berkaca
aku masih sibuk berkarya untuk mereka
masalah bukan sebuah musibah
musibah bukan pula sampah
mengapa harus ada kata menyerah?
bagiku.. hidup adalah perjuangan
bagimu.. hidup adalah perbandingan
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
ketika semua memperkaya diri
aku masih sibuk memperbaiki diri
aku masih sibuk dalam pergolakan jati diri
ketika semua bicara
ketika semua tertawa
aku masih sibuk berkaca
aku masih sibuk berkarya untuk mereka
masalah bukan sebuah musibah
musibah bukan pula sampah
mengapa harus ada kata menyerah?
bagiku.. hidup adalah perjuangan
bagimu.. hidup adalah perbandingan
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
9 oktober 2008
pamulang 8 Oktober 2008,..senja sudah berlalu dan malam mulai menyelimuti daerah pamulang, aku bersiap untuk pergi ke bandung. sebelum berangkat, aku pamit pada kedua orang tuaku dan adik2ku,..aku sampai di bandung tepat tengah malam dan sampai dikosan pada pukul 00.30 dan kalender pun sudah berganti menjadi 9 oktober 2008. Aku langsung tidur karena besok ada yang harus kukerjakan dimana aku akan mendaftarkan diriku untuk mengikuti ujian komprehensif di Jurusan Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Pagi itu aku bangun agak telat, sesegera mungkin aku bersiap untuk pergi ke kampus. Sesampainya di kampus aku langsung ke ruang jurusan di gedung 3, dan mencantumkan namaku di daftar peserta sidang komprehensif bulan november. Saat itu aku hendak menelepon seorang gadis yang sekiranya patut kukabari, karena kami memang sama2 berjuang untuk bulan november. namun entah mengapa aku mengurungkan niatku tadi. dan bergumam "ah ntar aja ngasih tawnya sekalian ngucapin met ultah bwat dia bulan november nanti". Setelah itu aku melangkahkan kakiku ke kantin kampus untuk membeli sebatang rokok mild dan segelas air mineral. Setelah itu, aku pun melangkah meninggalkan kantin untuk pulang ke kosan. Tapi tiba2 seorang sahabat yang bernama Akbar berkata, "put, nti dateng ya ke acara hima. temenin w, w jadi pembicara neh", aku pun menjawab "okay siap, toh dikosan juga w gada kerjaan"..
Aku pun duduk di plasa Fikom Unpad sambil menghisap rokok yang tadi baru saja kubeli. Di lokasi ini aku bertemu dengan sahabatku Rezkijatianing dan beberapa adik2 angkatan 2005 such as Hafidz, andez, melon dan budi.. kami berbincang cukup seru dan berakhir saat kami hendak mengahadiri acara Hima Humas di ruang moestopo gedung 4. Acara berlangsung lancar dan akbar pun telah selesai memberikan pengarahan pada para peserta forum. Kami langsung bergegas untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Namun sebelum pulang kami sempat berbincang lagi di koridor antara gedung 4 dan 3. Namun ketika kami sedang asik berbincang,..telepon selularku berdering. Ternyata Pak Bambang yang meneleponku. Beliau adalah rekan kerja papaku di kantor. Namun ada yang janggal pada saat itu, Pak Bambang berbicara tidak seperti biasanya dan terkesan sok asik bahkan ngelantur dan dia mengakhiri pembicaraan di telepon itu dengan menanyakan nomer telepon selular mamaku yang sekiranya aktif untuk dihubungi. Karena menurut penuturannya, telepon selular mamaku yang nomernya ada di telepon selularnya, tidak bisa dihubungi. Saat itu aku sempat berpikir "hmmm...biasanya kalo pak Bambang nanya telp mama, berarti hp papa lagi gada yang diaktifin alias papa maw istirahat dari kesibukan di kantor yang telah menguras waktu dan tenaganya" tapi entah mengapa aku tiba2 berpikir "oh, mungkin lagi urgent banget neh di kantor, coz sebelum aku pulang ke bandung papa lagi sibuk parah mpe jarang tidur". Singkat cerita, kuberikan nomer telepon selular mamaku pada Pak Bambang, dan dia pun mengucapkan terima kasih dan pembicaraan pun berakhir.
Adzan maghrib menggema di seantero kampusku,..aku dan beberapa sahabatku bergegas pulang. Saat itu aku diajak maen ke kosan sahabatku yudha untuk sekedar belajar bersama. Akhirnya, aku, Yudha, Akbar dan Surya pun bergegas pergi menuju kosan Yudha. Kami pun asik berdiskusi dan bercanda seraya melepas kangen karena sudah jarang bertemu satu sama lain. Namun ketika sedang asik tertawa, tiba2 telepon selularku kembali berdering. Ternyata Adikku yang menelepon. Aku agak kaget ada apa dia menelpon jam segini, saat itu sudah pukul 22.00 WIB. aku pun mengangkat telepon tersebut. Tiba2 bergetar seluruh tubuhku mendapati adikku sedang menangis di kejauhan sana "astaghfirullah ada apa ini?" (gumamku), "ada apa neng? tanyaku. adikku langsung menjawab "bang kita kena musibah" aku makin lemas "ada apa?ada apa? "abang tenang dulu,..papa kena strok tadi sore !!!"
LEMAS seluruh tubuhku mendengar kabar tersebut. aku pun terdiam. "Mungkin ini yang meyebabkan pak Bambang tadi bicara agak tidak karuan dan menanyakan no telp mamaku, pasalnya menurut penuturan adikku papa kena strok pukul 17.00 WIB. Jam segitu biasanya papaku masih produktif dengan segudang pekerjaannya,.dan yang membutku tambah khawatir adalah papaku sedang tidak bawa sopir hari itu,.mudah2an papa kena stroknya nggak pas lagi bawa mobil", gumamku. Sahabat2ku bertanya "ada ape put?" aku pun menjelaskan perihal kabar yang baru saja kudapatkan. Tanpa ada niat tuk membuang2 waktu aku pun bergegas untuk pulang ke jakarta. aku pun tak kuasa tuk membendung air mataku, enth sudah berapa tetes air mata yang jatuh membasahi pipiku. Akbar menawarkan jasa tuk mengantarku sampai tempat perhentian bus. Aku setuju dan setelah pamit pada sahabat2ku, kami pun berangkat menuju daerah cileunyi. Ujian komprehensif esok sudah tidak kupikirkan lagi. Sepanjang jalan aku hanya terdiam, tatapanku kosong. Akbar berusaha menyadarkanku dan mengajakku berbicara seraya memberi semangat. Tak terasa, sampailah kami di tempat yang kami tuju. Bus yang kucari belum datang, aku pun menunggu dengan perasaan yang kacau balau. "tenang put, jangan mikir yang macem2" kata akbar, aku hanya terdiam dan mulai meracau. "songong c,.dah w bilang istirahat2, eh malah ngeyel,..sekarang kejadian kan, aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgggghhhhhhhhh..." aku berteriak mengeluarkan isi hatiku tanpa terkontrol.
Akbar terdiam melihat sikapku ini dan mungkin dia bingung harus berbuat apa pada diriku ini.
Bus yang kunanti akhirnya datang. aku pun berpamitan pada akbar dan bergegas naik ke dalam bus. Saat itu keadaan bus sangat penuh namun untungnya aku masih kebagian tempat duduk. Setelah duduk,..aku kembali terdiam, menangis dan berpikir menerawang. Mengapa aku resah? Hal ini dikarenakan dalam keadaan seperti ini di keluargaku itu ada budaya bohong. artinya, ketika terjadi sesuatu yang buruk pada salah seorang anggota keluarga, pasti anggota keluarga yang lain dibohonbi dengan cara memberi kabar bahwa si anu keadaannya setingkat lebih baik dari keadaan yang sebenarnya. Dan parahnya, akulah yang biasa ditugasi tuk melakukan hal tersebut. hffffff,.. semakin kacau saja pikiranku saat itu. aku mencoba menenangkan diri, namun semua dosaku pada kedua orang tuaku khususnya papa yang saat itu sedang sakit membuatku kembali menangis dan menangis. Semua kenangan bersama papaku dari sejak aku kecil sampai detik itu hilir mudik dalam alam bawah sadarku. Begitu pula testimoni serta fenomena2 yang sering kulihat dan kudengar dari beberapa sahabat yang sudah menjadi yatim hilir mudik pula di benakku. Such as Kisah hidup Tri Nova, Deny, Anggun, Riri, opi, karina dan masih banyak lagi yang sudah menjalani kehidupan sebagai anak yatim semakin membuatku tertegun dan mencucurkan air mata. belum lagi kisah papaku yang sudah menjadi yatim piatu,. dulu saat aku masih brutal, papaku sering bilang,.."jangan sia2kan waktu yang abang punya, umur gada yang tahu, syukur kalo abang umurnya panjang dan masih bisa tobat, tapi kalo ngga? syukur kalo papa mama umurnya panjang, kalo ngga? liat papa,. biarpun hidup dah seperti sekarang, tetep aja HAMPA,.ga bisa balas budi dan kasi unjuk ke orang tua. hanya bisa berdoa di tepi batu nisan yang bisu."
aku semakin larut dalam kesedihanku,..pada beberapa sahabat yang sudah menjadi yatim aku sering berucap" kalian hebat, tegar,..kalo w c, hhhhhhhh,...gakan kuat kayanya" dan yang membuatku semakin meratap adalah dosa2ku dimasa lalu serta ketakutanku yang teramat sangat saat aku memutuskan tuk hidup merantau yang tak lain adalah mendapat kabar semacam ini. "Ya Allah jaga papaku" doaku disela tangisanku. entah mengapa, laju bus kali ini terasa lambaaaaaaaaaaaaaaaaat sekali,.padahal aku ingin sekali segera tiba di jakarta.
Pukul 00.27 Aku tiba di terminal lebak bulus,.aku langsung berlari mencari angkutan umum yang mengarah ke daerah rumahku. Namun sejenak aku berpikir, "aaaaaah,..kelamaan mending naek taksi aje" aku pun masuk ke dalam sebuah taksi burung biru, dan berucap "pak, ke pamulang dua ya,.lewat tol aja biar cepet" di perjalanan aku sempat melirik ke arah mesin argo, lalu aku mencari uang di dompetku untuk persiapan membayar saat turun nanti,. Dan ternyata uangku tinggal 10.000 rupiah dan uang itu langsung raib untuk bayar tol. "Shit" gumamku,.namun kedongkolanku itu tak berlangsung lama karena aku berpikir "ah,..nti minjem duit pembantuku aja di rumah" seperti ada malaikat yang mengantarku,.tak terasa taksi pun sudah sampai di depan rumahku. aku terhenyak karena situasi rumahku sepi sekali, aku pun membunyikan bel dam mulai gelisah, takut2 tidak ada orang di rumah dan taksi tidak terbayar, sedangkan aku tidak tahu papa dirawat dimana.
Tiba2 pembantuku keluar dan membukakan pintu, aku langsung meminjam uang beliau dan membayar tagihan argo taksi tersebut. Ternyata di dalam rumah adik2ku sudah pada tidur dan mereka baru saja pulang dari rumah sakit. ketika aku sedang berbincang dengan pembantuku perihal masalah papaku, tiba2 adikku yang pertama terbangun dan langsung memelukku dengan erat sambil terisak. aku semakin bingung, namun aku mulai tersadar, "aku harus bisa jadi imam di rumah ini, dan mulai menenangkan situasi" aku pun mewawancarai adikku itu perihal keadaan papaku,.sekilas aku melihat adik bungsuku sedang tertidur pulas dengan bekas air mata yang mengering di pipi lembutnya. Tak berapa lama pembicaraan ku hentikan dan aku bersiap tuk menuju rumah sakit. Aku pun bertanya "rumah sakit mana neng?" Omni international hospital bang, yang di alam sutera" waduh dimana ya,..itu Rumah sakit baru ya?" tanyaku lagi "iaa,..tapi gampang koq depan Mc D alam sutera banget" jawab adikku. Namun ketika aku hendak menuju garasi mobil, adiku berkata "abang maw kemana? kata mama tunggu dirumah aja, jagain ade tia. coz peraturannya yang boleh jaga pasien cuma 1 orang" ujar adikku,..aku langsung menjawab "aaaaaah,..siape yang bikin tu peraturan? masa w maw ketemu bapak w yang lagi sekarat mpe kagak boleh, udeh lu jaga rumah aje,..w maw kesana sebentar, w blum bisa tenang kalo blum liat papa secara langsung" kataku, dan aku pun segera menyalakan mesin mobil dan meluncur ke rumah sakit.
Seperti yang diutarakan oleh adikku tadi, ternyata rumah sakit itu tak terlalu sulit untuk ditemukan, dan aku pun sering melintas di daerah tersebut, hanya saja tak pernah sadar kalo disana ada rumah sakit. Saat itu waktu menunjukkan pukul 02.12 WIB. Dan kelender ppun sudah berganti lagi menjadi tanggal 10 Oktober 2008 Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bergegas untuk masuk. namun tiba2 adik bungsuku menelpon, "aa dimana?" ujarnya, "aa dirumah sakit de,..ade bobo aja yah,,aa cuma sebentar koq,..doain papanya yah" kataku seraya mematikan telepon tersebut dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.
Sial, semua pintu ditutup, aku mencoba masuk dari pintu parkir dan langsung menuju tangga darurat, kata adikku kamar nomer 406 lantai 4. aku langsung menaiki anak tangga sampai lantai 4, namun ketika pintu di lantai 4 hendak kubuka,.ternyata pintu itu pun terkunci,. "shit" gumamku, aku pun turun lagi dan mencoba mencari jalan menuju lobi rumah sakit. Sesampainya disana aku ditegur oleh seorang satpam "selamat malam mas, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya, "oh saya maw ketemu papa saya yang masuk tadi sore di lantai 4. jawabku, "maaf mas, di atas sudah ada yang menunggu, peraturannya hanya boleh satu orang yang menjaga pasien", lanjutnya, aku pun menjawab "pak, maaf yah, saya maw tanya deh,..kalo bapak Anda lagi sekarat, apakah bapak tidak ingin segera bertemu dengan beliau?" kataku, "waduh maaf mas peraturannya emang begitu", ujarnya, aku tidak lagi menanggapi satpam tersebut dan langsung bergegas untuk masuk ke dalam lift. Namun satpam itu malah maju dan menahan tubuhku yang sedang berusaha keras masuk ke dalam lift. Dalam keadaan seperti itu, putra yang dahulu tiba2 muncul dalam sosok putra yang sekarang. Aku langsung berontak dan mencengkram batang lehernya,.."oi,,.pak biasa aja donk,..emang w maling, ampe dipiting2 segala" ujarku. Satpam itu malah menatapku dengan mata yang membelalak. aku pun berujar "oi,,.pak,.. kalo maw pake mata kaya gtu jangan ke w,..salah orang lu" setelah aku selesai berujar seperti tadi,.. tiba2 datang seorang satpam lagi dan melerai kami berdua. "ada apa ini?" sanggahnya,.sambil tetap memiting leher satpam yang pertama aku pun menjawab "ini nih temen Anda miting2 saya segala dah kaya maling padahal saya cuma maw jenguk bapak saya yang lagi sekarat, masa sedikitpun gak punya rasa emphaty, emangnya saya maw ngapain c? bikin party? bikin berisik? bakar kembang api? hah? hah? hah? saya cuma maw liat keadaan papa saya aja koq. that's all, saya tahu posisi bapak terhadap peraturan,.tapi liat liat sikon dong, toh saya cuma maw jenguk papa saya aja..ataw saya perlu ijin langsung ke manajemen rumah sakit ini untuk sekedar dapat ijin jenguk papa saya yang sedang sekarat? Saya gakan bakar kembang api koq di dalem sanam cuma maw jenguk that's all. saya hidup merantau..jauh dari orang tua,..sekarang papa saya sekarat di atas, saya ingin liat kondisi beliau aja" kataku. Akhirnya satpam yang kedua memintaku dan satpam pertama untuk melepas pitingan, dan mulai berucap "saya paham mas,..mohon maaf atas sikap rekan saya tadi, kalo boleh taw, nama ayah mas siapa ya? masuknya kapan?" tanyanya, "pak Dede Rohiman, strok tadi sore" jawabku. "oooh ini mas putra yang dari bandung ya, ayo silahkan naik,.maaf atas kejadian tadi,.mas sudah ditunggu oleh mamanya di atas" ujarnya. aku pun terdiam dan mengucap terima kasih serta mohon maaf pada satpam yang pertama tadi. Namun setelah itu sejuta tanya dalam benakku, "ada apa ini? koq mama dah nunggu kedatanganku?" aaaaaaaaaaahhhhhhhh,...aku mencoba untuk membuang pikiran2 aneh dalam otakku selama aku di dalam lift.
Sesampainya di lantai 4, aku langsung mencari kamar 406,.dua orang suster meyapaku dan berkata,."mas putra ya?, maw liat papanya? boleh aja, tapi jangan berisik, dan kalo bisa jangan nangis di depan papanya yah !" uharnya. aku pun mengangguk dan mulai membuka pintu kamar sesampainya di dalam kamar tirai di ruang papaku pun kusibakkan..
yang kulihat saat itu adalah papaku tergolek lemas di pembaringan dan mamaku yang sedang mengaji di samping papaku. aku tak kuasa menahan air mataku, seketika itu pula aku menangis,.namun mamaku tersadar akan kedatanganku dan mencoba menenangkanku dan berucap "jangan nagis depan papa, emosinya papa ga boleh keganggu" kata mama. Aku berusaha menuruti arahan mamaku. Dan tiba2 papa terbangun dan mulai menatapku. aku pun langsung menghampirinya seraya ingin menyalami tangannya,..namun apa yang kulihat sungguh perih rasanya,.tangan papa sudah tidak bisa bergerak,. MATI,..MATI,..tubuh bagian kanan papa semua mati, bibir papa yang sebelah kanan pun terlihat tak kuasa menahan gravitasi bumi.
"YA ALLAH,.. ujian apa lagi ini?" gumamku dalam hati
papa menatapku tajam dan mulai berbicara, namun.................. aaaaah,...eeoh,..uuuh...
"YA ALLAH papaku sudah tak bisa berbicara dengan jelas lagi" jeritku dalam hati
aku mencoba menangkap apa yang papa coba utarakan,..namun tetap saja aku tidak mengerti,.. lalu papa memberi kode dengan menggerakkan tang sebelah kirinya yang masih hidup seraya menunjukkan suatu kegiatan. Tetap saja aku tidak mengerti. Namun untungnya mamaku paham apa yang papaku coba utarakan kepadaku,.untung mama adalah seorang guru SLB dan mengetahui bahasa isyarat papaku yang dulu juga seorang guru SLB di yayasan Santi Rama Jakarta.
mamaku mulai menterjemahkan, " kata papa, maaf yah keadaanya jadi kaya gini,.gimana skripsi aa? maaf papa belum sempet transfer uang kerekening aa"
"ASTAGHFIRULLAH,......." dalam keadaan dirinya yang sekarat pun papa masih ingat pada diriku dan segudang tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga..
"udah gampang skripsi abang mah,..uang juga gampang rejeki mah ga akan kemana koq,..yang penting mah sekarang papa otaknya harus tenang yah,..bebasin aja pikirannya,..abang mah gampang,..udah papah bobo ja lagi yah" ucapku seraya mencium kening papa dan menyuruhnya untuk tidur kembali..
YA ALLAH,..aku tak kuasa menahan tangisku melihat keadaan papaku.. sosok seorang laki2 yang menjadi idolaku,.jagoanku,..tempat aku mengadu saat aku dijahili waktu aku masih kecil,..orang yang mengajariku berhitung,..naek sepeda,.naek motor,..mobil,..bela diri,..konsep hidup,..manajemen,.. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh,...sekarang dia hanya bisa tergolek tak berdaya,..entah sudah berapa tetes air mataku yang jatuh ke lantai ruang rawat inap itu.
Mamaku mencoba menenangkanku..aku pun tersadar,.."harusnya aku yang menjaga mama" aku pun meminta mma untuk lekas tidur dan biarkan aku yang menjaga mereka berdua malam itu. mama pun setuju dan aku duduk di sebelah kiri papa,.sedangkan mama tidur dengan posisi duduk di sebelah kanan papa..
ketika mama sudah mulai tertidur,..aku beranjak dari kursi dudukku,..dan berjalan ke arah jendela,...disana lagi2 aku menangis..menangis dan menangis,..
malam itu aku terjaga sampai pagi. sambil terus memanage pola pikirku agar tetap tenang dan mempersiapkan diri menggantikan papa untuk sementara waktu sebagai imam di keluarga yang dulu di bangun dengan penuh perjuangan, cinta dan sejuta kasih sayang oleh pasangan muda yang bernama Dede Rohiman dan Siti Fatimah.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Aku pun duduk di plasa Fikom Unpad sambil menghisap rokok yang tadi baru saja kubeli. Di lokasi ini aku bertemu dengan sahabatku Rezkijatianing dan beberapa adik2 angkatan 2005 such as Hafidz, andez, melon dan budi.. kami berbincang cukup seru dan berakhir saat kami hendak mengahadiri acara Hima Humas di ruang moestopo gedung 4. Acara berlangsung lancar dan akbar pun telah selesai memberikan pengarahan pada para peserta forum. Kami langsung bergegas untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Namun sebelum pulang kami sempat berbincang lagi di koridor antara gedung 4 dan 3. Namun ketika kami sedang asik berbincang,..telepon selularku berdering. Ternyata Pak Bambang yang meneleponku. Beliau adalah rekan kerja papaku di kantor. Namun ada yang janggal pada saat itu, Pak Bambang berbicara tidak seperti biasanya dan terkesan sok asik bahkan ngelantur dan dia mengakhiri pembicaraan di telepon itu dengan menanyakan nomer telepon selular mamaku yang sekiranya aktif untuk dihubungi. Karena menurut penuturannya, telepon selular mamaku yang nomernya ada di telepon selularnya, tidak bisa dihubungi. Saat itu aku sempat berpikir "hmmm...biasanya kalo pak Bambang nanya telp mama, berarti hp papa lagi gada yang diaktifin alias papa maw istirahat dari kesibukan di kantor yang telah menguras waktu dan tenaganya" tapi entah mengapa aku tiba2 berpikir "oh, mungkin lagi urgent banget neh di kantor, coz sebelum aku pulang ke bandung papa lagi sibuk parah mpe jarang tidur". Singkat cerita, kuberikan nomer telepon selular mamaku pada Pak Bambang, dan dia pun mengucapkan terima kasih dan pembicaraan pun berakhir.
Adzan maghrib menggema di seantero kampusku,..aku dan beberapa sahabatku bergegas pulang. Saat itu aku diajak maen ke kosan sahabatku yudha untuk sekedar belajar bersama. Akhirnya, aku, Yudha, Akbar dan Surya pun bergegas pergi menuju kosan Yudha. Kami pun asik berdiskusi dan bercanda seraya melepas kangen karena sudah jarang bertemu satu sama lain. Namun ketika sedang asik tertawa, tiba2 telepon selularku kembali berdering. Ternyata Adikku yang menelepon. Aku agak kaget ada apa dia menelpon jam segini, saat itu sudah pukul 22.00 WIB. aku pun mengangkat telepon tersebut. Tiba2 bergetar seluruh tubuhku mendapati adikku sedang menangis di kejauhan sana "astaghfirullah ada apa ini?" (gumamku), "ada apa neng? tanyaku. adikku langsung menjawab "bang kita kena musibah" aku makin lemas "ada apa?ada apa? "abang tenang dulu,..papa kena strok tadi sore !!!"
LEMAS seluruh tubuhku mendengar kabar tersebut. aku pun terdiam. "Mungkin ini yang meyebabkan pak Bambang tadi bicara agak tidak karuan dan menanyakan no telp mamaku, pasalnya menurut penuturan adikku papa kena strok pukul 17.00 WIB. Jam segitu biasanya papaku masih produktif dengan segudang pekerjaannya,.dan yang membutku tambah khawatir adalah papaku sedang tidak bawa sopir hari itu,.mudah2an papa kena stroknya nggak pas lagi bawa mobil", gumamku. Sahabat2ku bertanya "ada ape put?" aku pun menjelaskan perihal kabar yang baru saja kudapatkan. Tanpa ada niat tuk membuang2 waktu aku pun bergegas untuk pulang ke jakarta. aku pun tak kuasa tuk membendung air mataku, enth sudah berapa tetes air mata yang jatuh membasahi pipiku. Akbar menawarkan jasa tuk mengantarku sampai tempat perhentian bus. Aku setuju dan setelah pamit pada sahabat2ku, kami pun berangkat menuju daerah cileunyi. Ujian komprehensif esok sudah tidak kupikirkan lagi. Sepanjang jalan aku hanya terdiam, tatapanku kosong. Akbar berusaha menyadarkanku dan mengajakku berbicara seraya memberi semangat. Tak terasa, sampailah kami di tempat yang kami tuju. Bus yang kucari belum datang, aku pun menunggu dengan perasaan yang kacau balau. "tenang put, jangan mikir yang macem2" kata akbar, aku hanya terdiam dan mulai meracau. "songong c,.dah w bilang istirahat2, eh malah ngeyel,..sekarang kejadian kan, aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgggghhhhhhhhh..." aku berteriak mengeluarkan isi hatiku tanpa terkontrol.
Akbar terdiam melihat sikapku ini dan mungkin dia bingung harus berbuat apa pada diriku ini.
Bus yang kunanti akhirnya datang. aku pun berpamitan pada akbar dan bergegas naik ke dalam bus. Saat itu keadaan bus sangat penuh namun untungnya aku masih kebagian tempat duduk. Setelah duduk,..aku kembali terdiam, menangis dan berpikir menerawang. Mengapa aku resah? Hal ini dikarenakan dalam keadaan seperti ini di keluargaku itu ada budaya bohong. artinya, ketika terjadi sesuatu yang buruk pada salah seorang anggota keluarga, pasti anggota keluarga yang lain dibohonbi dengan cara memberi kabar bahwa si anu keadaannya setingkat lebih baik dari keadaan yang sebenarnya. Dan parahnya, akulah yang biasa ditugasi tuk melakukan hal tersebut. hffffff,.. semakin kacau saja pikiranku saat itu. aku mencoba menenangkan diri, namun semua dosaku pada kedua orang tuaku khususnya papa yang saat itu sedang sakit membuatku kembali menangis dan menangis. Semua kenangan bersama papaku dari sejak aku kecil sampai detik itu hilir mudik dalam alam bawah sadarku. Begitu pula testimoni serta fenomena2 yang sering kulihat dan kudengar dari beberapa sahabat yang sudah menjadi yatim hilir mudik pula di benakku. Such as Kisah hidup Tri Nova, Deny, Anggun, Riri, opi, karina dan masih banyak lagi yang sudah menjalani kehidupan sebagai anak yatim semakin membuatku tertegun dan mencucurkan air mata. belum lagi kisah papaku yang sudah menjadi yatim piatu,. dulu saat aku masih brutal, papaku sering bilang,.."jangan sia2kan waktu yang abang punya, umur gada yang tahu, syukur kalo abang umurnya panjang dan masih bisa tobat, tapi kalo ngga? syukur kalo papa mama umurnya panjang, kalo ngga? liat papa,. biarpun hidup dah seperti sekarang, tetep aja HAMPA,.ga bisa balas budi dan kasi unjuk ke orang tua. hanya bisa berdoa di tepi batu nisan yang bisu."
aku semakin larut dalam kesedihanku,..pada beberapa sahabat yang sudah menjadi yatim aku sering berucap" kalian hebat, tegar,..kalo w c, hhhhhhhh,...gakan kuat kayanya" dan yang membuatku semakin meratap adalah dosa2ku dimasa lalu serta ketakutanku yang teramat sangat saat aku memutuskan tuk hidup merantau yang tak lain adalah mendapat kabar semacam ini. "Ya Allah jaga papaku" doaku disela tangisanku. entah mengapa, laju bus kali ini terasa lambaaaaaaaaaaaaaaaaat sekali,.padahal aku ingin sekali segera tiba di jakarta.
Pukul 00.27 Aku tiba di terminal lebak bulus,.aku langsung berlari mencari angkutan umum yang mengarah ke daerah rumahku. Namun sejenak aku berpikir, "aaaaaah,..kelamaan mending naek taksi aje" aku pun masuk ke dalam sebuah taksi burung biru, dan berucap "pak, ke pamulang dua ya,.lewat tol aja biar cepet" di perjalanan aku sempat melirik ke arah mesin argo, lalu aku mencari uang di dompetku untuk persiapan membayar saat turun nanti,. Dan ternyata uangku tinggal 10.000 rupiah dan uang itu langsung raib untuk bayar tol. "Shit" gumamku,.namun kedongkolanku itu tak berlangsung lama karena aku berpikir "ah,..nti minjem duit pembantuku aja di rumah" seperti ada malaikat yang mengantarku,.tak terasa taksi pun sudah sampai di depan rumahku. aku terhenyak karena situasi rumahku sepi sekali, aku pun membunyikan bel dam mulai gelisah, takut2 tidak ada orang di rumah dan taksi tidak terbayar, sedangkan aku tidak tahu papa dirawat dimana.
Tiba2 pembantuku keluar dan membukakan pintu, aku langsung meminjam uang beliau dan membayar tagihan argo taksi tersebut. Ternyata di dalam rumah adik2ku sudah pada tidur dan mereka baru saja pulang dari rumah sakit. ketika aku sedang berbincang dengan pembantuku perihal masalah papaku, tiba2 adikku yang pertama terbangun dan langsung memelukku dengan erat sambil terisak. aku semakin bingung, namun aku mulai tersadar, "aku harus bisa jadi imam di rumah ini, dan mulai menenangkan situasi" aku pun mewawancarai adikku itu perihal keadaan papaku,.sekilas aku melihat adik bungsuku sedang tertidur pulas dengan bekas air mata yang mengering di pipi lembutnya. Tak berapa lama pembicaraan ku hentikan dan aku bersiap tuk menuju rumah sakit. Aku pun bertanya "rumah sakit mana neng?" Omni international hospital bang, yang di alam sutera" waduh dimana ya,..itu Rumah sakit baru ya?" tanyaku lagi "iaa,..tapi gampang koq depan Mc D alam sutera banget" jawab adikku. Namun ketika aku hendak menuju garasi mobil, adiku berkata "abang maw kemana? kata mama tunggu dirumah aja, jagain ade tia. coz peraturannya yang boleh jaga pasien cuma 1 orang" ujar adikku,..aku langsung menjawab "aaaaaah,..siape yang bikin tu peraturan? masa w maw ketemu bapak w yang lagi sekarat mpe kagak boleh, udeh lu jaga rumah aje,..w maw kesana sebentar, w blum bisa tenang kalo blum liat papa secara langsung" kataku, dan aku pun segera menyalakan mesin mobil dan meluncur ke rumah sakit.
Seperti yang diutarakan oleh adikku tadi, ternyata rumah sakit itu tak terlalu sulit untuk ditemukan, dan aku pun sering melintas di daerah tersebut, hanya saja tak pernah sadar kalo disana ada rumah sakit. Saat itu waktu menunjukkan pukul 02.12 WIB. Dan kelender ppun sudah berganti lagi menjadi tanggal 10 Oktober 2008 Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bergegas untuk masuk. namun tiba2 adik bungsuku menelpon, "aa dimana?" ujarnya, "aa dirumah sakit de,..ade bobo aja yah,,aa cuma sebentar koq,..doain papanya yah" kataku seraya mematikan telepon tersebut dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.
Sial, semua pintu ditutup, aku mencoba masuk dari pintu parkir dan langsung menuju tangga darurat, kata adikku kamar nomer 406 lantai 4. aku langsung menaiki anak tangga sampai lantai 4, namun ketika pintu di lantai 4 hendak kubuka,.ternyata pintu itu pun terkunci,. "shit" gumamku, aku pun turun lagi dan mencoba mencari jalan menuju lobi rumah sakit. Sesampainya disana aku ditegur oleh seorang satpam "selamat malam mas, ada yang bisa saya bantu?" ujarnya, "oh saya maw ketemu papa saya yang masuk tadi sore di lantai 4. jawabku, "maaf mas, di atas sudah ada yang menunggu, peraturannya hanya boleh satu orang yang menjaga pasien", lanjutnya, aku pun menjawab "pak, maaf yah, saya maw tanya deh,..kalo bapak Anda lagi sekarat, apakah bapak tidak ingin segera bertemu dengan beliau?" kataku, "waduh maaf mas peraturannya emang begitu", ujarnya, aku tidak lagi menanggapi satpam tersebut dan langsung bergegas untuk masuk ke dalam lift. Namun satpam itu malah maju dan menahan tubuhku yang sedang berusaha keras masuk ke dalam lift. Dalam keadaan seperti itu, putra yang dahulu tiba2 muncul dalam sosok putra yang sekarang. Aku langsung berontak dan mencengkram batang lehernya,.."oi,,.pak biasa aja donk,..emang w maling, ampe dipiting2 segala" ujarku. Satpam itu malah menatapku dengan mata yang membelalak. aku pun berujar "oi,,.pak,.. kalo maw pake mata kaya gtu jangan ke w,..salah orang lu" setelah aku selesai berujar seperti tadi,.. tiba2 datang seorang satpam lagi dan melerai kami berdua. "ada apa ini?" sanggahnya,.sambil tetap memiting leher satpam yang pertama aku pun menjawab "ini nih temen Anda miting2 saya segala dah kaya maling padahal saya cuma maw jenguk bapak saya yang lagi sekarat, masa sedikitpun gak punya rasa emphaty, emangnya saya maw ngapain c? bikin party? bikin berisik? bakar kembang api? hah? hah? hah? saya cuma maw liat keadaan papa saya aja koq. that's all, saya tahu posisi bapak terhadap peraturan,.tapi liat liat sikon dong, toh saya cuma maw jenguk papa saya aja..ataw saya perlu ijin langsung ke manajemen rumah sakit ini untuk sekedar dapat ijin jenguk papa saya yang sedang sekarat? Saya gakan bakar kembang api koq di dalem sanam cuma maw jenguk that's all. saya hidup merantau..jauh dari orang tua,..sekarang papa saya sekarat di atas, saya ingin liat kondisi beliau aja" kataku. Akhirnya satpam yang kedua memintaku dan satpam pertama untuk melepas pitingan, dan mulai berucap "saya paham mas,..mohon maaf atas sikap rekan saya tadi, kalo boleh taw, nama ayah mas siapa ya? masuknya kapan?" tanyanya, "pak Dede Rohiman, strok tadi sore" jawabku. "oooh ini mas putra yang dari bandung ya, ayo silahkan naik,.maaf atas kejadian tadi,.mas sudah ditunggu oleh mamanya di atas" ujarnya. aku pun terdiam dan mengucap terima kasih serta mohon maaf pada satpam yang pertama tadi. Namun setelah itu sejuta tanya dalam benakku, "ada apa ini? koq mama dah nunggu kedatanganku?" aaaaaaaaaaahhhhhhhh,...aku mencoba untuk membuang pikiran2 aneh dalam otakku selama aku di dalam lift.
Sesampainya di lantai 4, aku langsung mencari kamar 406,.dua orang suster meyapaku dan berkata,."mas putra ya?, maw liat papanya? boleh aja, tapi jangan berisik, dan kalo bisa jangan nangis di depan papanya yah !" uharnya. aku pun mengangguk dan mulai membuka pintu kamar sesampainya di dalam kamar tirai di ruang papaku pun kusibakkan..
yang kulihat saat itu adalah papaku tergolek lemas di pembaringan dan mamaku yang sedang mengaji di samping papaku. aku tak kuasa menahan air mataku, seketika itu pula aku menangis,.namun mamaku tersadar akan kedatanganku dan mencoba menenangkanku dan berucap "jangan nagis depan papa, emosinya papa ga boleh keganggu" kata mama. Aku berusaha menuruti arahan mamaku. Dan tiba2 papa terbangun dan mulai menatapku. aku pun langsung menghampirinya seraya ingin menyalami tangannya,..namun apa yang kulihat sungguh perih rasanya,.tangan papa sudah tidak bisa bergerak,. MATI,..MATI,..tubuh bagian kanan papa semua mati, bibir papa yang sebelah kanan pun terlihat tak kuasa menahan gravitasi bumi.
"YA ALLAH,.. ujian apa lagi ini?" gumamku dalam hati
papa menatapku tajam dan mulai berbicara, namun.................. aaaaah,...eeoh,..uuuh...
"YA ALLAH papaku sudah tak bisa berbicara dengan jelas lagi" jeritku dalam hati
aku mencoba menangkap apa yang papa coba utarakan,..namun tetap saja aku tidak mengerti,.. lalu papa memberi kode dengan menggerakkan tang sebelah kirinya yang masih hidup seraya menunjukkan suatu kegiatan. Tetap saja aku tidak mengerti. Namun untungnya mamaku paham apa yang papaku coba utarakan kepadaku,.untung mama adalah seorang guru SLB dan mengetahui bahasa isyarat papaku yang dulu juga seorang guru SLB di yayasan Santi Rama Jakarta.
mamaku mulai menterjemahkan, " kata papa, maaf yah keadaanya jadi kaya gini,.gimana skripsi aa? maaf papa belum sempet transfer uang kerekening aa"
"ASTAGHFIRULLAH,......." dalam keadaan dirinya yang sekarat pun papa masih ingat pada diriku dan segudang tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga..
"udah gampang skripsi abang mah,..uang juga gampang rejeki mah ga akan kemana koq,..yang penting mah sekarang papa otaknya harus tenang yah,..bebasin aja pikirannya,..abang mah gampang,..udah papah bobo ja lagi yah" ucapku seraya mencium kening papa dan menyuruhnya untuk tidur kembali..
YA ALLAH,..aku tak kuasa menahan tangisku melihat keadaan papaku.. sosok seorang laki2 yang menjadi idolaku,.jagoanku,..tempat aku mengadu saat aku dijahili waktu aku masih kecil,..orang yang mengajariku berhitung,..naek sepeda,.naek motor,..mobil,..bela diri,..konsep hidup,..manajemen,.. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh,...sekarang dia hanya bisa tergolek tak berdaya,..entah sudah berapa tetes air mataku yang jatuh ke lantai ruang rawat inap itu.
Mamaku mencoba menenangkanku..aku pun tersadar,.."harusnya aku yang menjaga mama" aku pun meminta mma untuk lekas tidur dan biarkan aku yang menjaga mereka berdua malam itu. mama pun setuju dan aku duduk di sebelah kiri papa,.sedangkan mama tidur dengan posisi duduk di sebelah kanan papa..
ketika mama sudah mulai tertidur,..aku beranjak dari kursi dudukku,..dan berjalan ke arah jendela,...disana lagi2 aku menangis..menangis dan menangis,..
malam itu aku terjaga sampai pagi. sambil terus memanage pola pikirku agar tetap tenang dan mempersiapkan diri menggantikan papa untuk sementara waktu sebagai imam di keluarga yang dulu di bangun dengan penuh perjuangan, cinta dan sejuta kasih sayang oleh pasangan muda yang bernama Dede Rohiman dan Siti Fatimah.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
renungan seorang pecundang
Hari ini aku termenung di sebuah meja kantin. Pandanganku tertuju pada gundukan tanah yang ada di seberang kantin. jutaan masalah terus melintas dalam otakku.."uuuuuuuuukkkh.." aku pun menjerit. Dengan tatapan yang perlahan mulai basah, kutatap tanah yang ada di hadapanku dan mulai berpikir serta memaknai. Tanah, dari sanalah aku tercipta. Tiba-tiba ada seekor burung dan cacing yang menyadarkanku dari lamunan kosong. terjadilah kejadian menakjubkan layaknya kisah Habil dan Qabil yang menyadarkanku bahwa ALLAH SWT itu sayang padaku.
Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan such as kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Setiap pagi burung keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu, kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan untuk keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia.
Namun, yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis
akan makanan yang dijanjikan ALLAH SWT. Lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan dilain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung. cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, cakar dan tanduk. Tetapi ia adalah makhluk hidup dan sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membenturkan kepalanya ke batu.
Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ? Mengapa manusia yang diberi akal, banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi? Padahal belum pernah kita lihat burung atau cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.
Terima kasih Alam..
Terima kasih Masalah..
sungguh sebuah karunia yang tak terhingga dapat menyaksikan keseimbangan alamMu ya RaBB..
Subhanallah..
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan such as kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Setiap pagi burung keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu, kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan untuk keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia.
Namun, yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis
akan makanan yang dijanjikan ALLAH SWT. Lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan dilain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.
Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung. cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, cakar dan tanduk. Tetapi ia adalah makhluk hidup dan sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membenturkan kepalanya ke batu.
Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ? Mengapa manusia yang diberi akal, banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi? Padahal belum pernah kita lihat burung atau cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.
Terima kasih Alam..
Terima kasih Masalah..
sungguh sebuah karunia yang tak terhingga dapat menyaksikan keseimbangan alamMu ya RaBB..
Subhanallah..
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Langganan:
Postingan (Atom)